Minggu, Juli 06, 2014

Revisi Tindakan

Siang itu Pemuda Tanggung berjalan beriringan bersama salah seorang sahabatnya. Mereka baru saja selesai "membunuh waktu" satu setengah jam di warung internet, memenuhi dahaga akan media sosial dan rasa lapar akan informasi, di dekat rumah mereka.

"Ihh, masbro bayar dengan uang receh," kata sahabat Pemuda Tanggung untuk yang ke sejuta kalinya.

"Uang receh itu lebih mahal dalam pembuatannya tahu dari uang kertas," sahut Pemuda Tanggung tak mau kalah, juga untuk ke sejuta kalinya.


Kedua kalimat itu sudah dimulai sejak Pemuda Tanggung mengeluarkan uang receh dari dompetnya, yang dikeluarkan sejak dari salah satu kubikel di warnet. Awalnya Pemuda Tanggung menganggapnya sebagai angin lalu, mengingat sahabatnya yang ini memang orangnya punya gengsi yang sangat besar. Takut terlihat miskin, walau perekonomiannya pas-pasan, uang pun masih didapat dari hasil minta sana dan sini. Takut terlihat hitam. Selalu ingin tampak superior. Awalnya Pemuda Tanggung ingin mengabaikannya, ingin bersikap tenang. Apalagi saat itu dia sedang puasa.

Tapi tak perlu butuh waktu lama, saling lempar kalimat yang sama berulang-ulang itu berubah menjadi ajang kuat-kuatan. Siapa yang paling kuat bertahan mengucapkan kalimat itu terus-terusan, walau tak ada kata sepakat terucap dari bibir mereka berdua, dialah yang keluar sebagai pemenangnya.

Hingga...

Sang sahabat mulai menggerakkan tangannya, menempeleng kepala Pemuda Tanggung. Pemuda Tanggung tahu itu maksudnya bercanda, mereka sudah melakukan itu milyaran kali, tapi entah kenapa hari ini berbeda. Hari ini dia merasa panas! Dan merasa perlu untuk balas menempeleng!

Pemuda Tanggung memang melakukannya.

Dengan lebih keras!

Sempat di benaknya terbersit menyalahkan teriknya matahari atau perutnya yang kosong tak terisi atau tingkah polah sahabatnya, yang kebetulan tidak menahan lapar dan haus akibat kemarin dirinya mengerjakan pekerjaan kasar, sebagai oknum yang membuatnya hilang kesabaran. Tapi dirinya sadar, bukan tiga hal itu yang meruntuhkan dinding kesabarannya, melainkan dirinya sendiri. Dia memilih hanyut dalam arus kemarahan.

Dalam hati Pemuda Tanggung terjadi debat, antara dia merasa menyesal karena puasanya tidak batal tapi tak berkah—dia hanya mendapatkan haus dan lapar, dan merasa tindakannya tidak salah sebab sahabatnya memang pantas mendapatkan balasan langsung!

Pemuda Tanggung berharap, seandainya dia bisa merevisi tindakannya perdebatan di dalam hatinya sangat mungkin tidak akan terjadi.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^