Rabu, Agustus 20, 2014

Balada Kuter

Catatan: Materi coretan kali ini diambil dari tulisan sobat Naelil: Kuters; Bukan Sekedar Pencari Gratisan.

Akhirnya, aku menemukan lagi satu kuter (kuis hunter atau pemburu kuis) yang tidak diam saja menanggapi gunjingan yang berkembang di dunia perkuisan. Walau tulisan sobat Naelil termasuk tulisan lama, alias ditulis sekitar satu tahun yang lalu, bisa dibilang apa yang ditorehkannya di blog pribadinya tersebut masih aktual sampai sekarang.


Menjadi kuter memang susah-susah gampang. Susah karena, usahanya bisa dibilang sama seperti orang bekerja, sama-sama memeras tenaga hingga tubuh memproduksi keringat, sama-sama memaksa otak menghasilkan ide-ide terkreatifnya, sama persis seperti apa yang dilakukan oleh para atlet yang bertanding merebut gelar juara.

Gampang karena biasanya tidak banyak syarat untuk ikut berpartisipasi, nyaris semua orang bisa mengikutinya, dan seringnya cara agar untuk memenangkannya, terutama kuis-kuis yang penentuan pemenangnya dengan cara diundi, memang diset sangat gampang, semisal cuman diminta follow dan RT tweet doang, atau menjawab pertanyaan yang sangat mudah seperti, "Air apa yang panas? Jawabnya: air panas."

Namun, aku rasa orang-orang yang mencemooh itu melihat dari sisi "gampang" itu saja.

Tidakkah mereka memikirkan kemungkinan adanya kuter yang rela begadang demi menjadi pemenang? Dan apa bedanya dengan orang yang bekerja lembur hingga lewat tengah malam demi mendapat bonus atau uang tambahan?

Tidak pulakah mereka memikirkan bahwa benda yang dianggap tak seberapa oleh mereka terkadang sangat berarti bagi sebagian kuter? Bagi sebagian kuter, mungkin benda yang tak seberapa itu tak pernah terjangkau bila dia mencoba mendapatkannya dengan cara selain ikutan kuis.

Bagi sebagian kuter, kuis itu memberi harapan. Menyuntikkan semangat. Dan, dengarkan wahai kalian yang menuduh kuter pengangguran, memberi pekerjaan. Ya, dengan ikut kuis kuter termasuk bekerja. Bekerja menantang dirinya, bekerja menantang orang lain, dan bekerja untuk (mencoba) memuaskan penyelenggara.

Dan bila menang... Kuter mendapatkan perasaan yang kadang tak terlukiskan. Bahkan rasa itu terkadang melebihi luapan emosi mereka-mereka, yang bekerja dengan sistem gaji, saat menerima honor. Bayangkan, kuter pemenang itu, dia mendapatkan hadiah dan telah mengungguli puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan partisipan. Rasa bangga jelas membanjiri tiap sel dalam tubuhnya.

Di tulisannya tersebut, sobat Naelil menulis, "Bayangin deh misal kita udah share banyak, penuhi beranda orang sampai dimaki-maki, ternyata kalah. Kalau bukan jiwa kuters, pasti udah down. Kuters nggak gitu. Kuters selalu semangat!" Aku kurang setuju dengan kalimat sobat Nae tersebut. Aku tahu tidak ada makna negatif di situ, tapi aku cemas ada sebagian yang salah tangkap dari kalimat itu, sebab kalimat itu berpotensi seolah-olah sobat Nae itu mengkotak-kotakkan hanya kuter yang tidak mudah down sementara non-kuter mudah down.

Yang bukan kuter juga mengalami hal itu. Dicela, dihujat, dicibir katanya sosmednya sudah berubah jadi pasar tumpah, dan apakah mereka kecewa? Tentu mereka kecewa. Bohong kalau tidak. Tapi apakah mereka kehilangan semangat? Ada yang iya ada yang "Peduli amat? Apa yang aku lakukan halal kok."

Jadi, soal terus berusaha, soal kehilangan semangat, baik kuter dan non-kuter mereka sama. Tergantung individu masing-masing.

Dan seperti sifat manusia pada umumnya, tidak semua kuter memiliki hati yang lapang dada dalam menerima kekalahan. Ada yang marah-marah dan meluapkan gelegaknya tersebut di sosial medianya dalam bentuk sindiran, ada juga yang secara terang-terangan. Ironisnya, ada juga kuter yang menyerang sesama kuter yang menang atau penyelenggara dengan akun keduanya atau ketiga atau keempat.

Kuis memang memiliki nama lain iseng-iseng berhadiah. Tapi sesungguhnya hal itu tak terlalu benar. Nyaris tidak ada partisipan yang ikutan sebuah kuis didasari oleh keisengan. Mereka niat untuk ikut dan berharap serta berdo'a agar keluar sebagai pemenang. Mereka dengan sepenuh hati mengorbankan waktu, tenaga, dan kemampuan mereka untuk bisa jadi juara.

Pada akhirnya, menjadi kuter memang sebuah pilihan. Sama seperti ketika memilih sebuah kegiatan atau hal lainnya. Kalau kuter menjadikan kegiatan berburunya tersebut sebagai pekerjaan... apa yang salah dengan hal itu? Apakah pekerjaan baru dikatakan pekerjaan ketika duduk di belakang meja atau digaji oleh sebuah perusahaan? Tentu tidak, bukan? Tuhan menjanjikan rezeki bagi masing-masing hambaNya, dan bila hamba tersebut mendapatkan rezekinya dari kuis-kuis, lantas apa yang perlu dipermasalahkan?


P.S. Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 1st Anniversary Naelil The Climber.
Share:

4 komentar:

  1. Setuju ini. "Jadi, soal terus berusaha, soal kehilangan semangat, baik kuter dan non-kuter mereka sama. Tergantung individu masing-masing."
    Terima kasih ya, lain waktu insyaAllah lebih hati-hati lagi dalam menyusun kalimat ^^

    BalasHapus
  2. Rejeki sudah ada yang mengatur. Jadi seorang Kuter memang tidak gampang, dan saya senang bisa menjadi seorang Kuter.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^