Jumat, Agustus 15, 2014

Balada Lebaran #1: Dari Rasa Kecewa hingga Sego Pecel Tanpa Tempe

Sejak lebaran dua tahun lalu, aku jadi punya kebiasaan baru: membuat laporan tentang hari-hari yang kulewatkan selama lebaran, yang mana isinya seringnya berisikan hal-hal yang menarik, semisal sepupu cakep dan lain sebagainya, yang enak untuk diceritakan.

Sebelum perasaan kalian jadi campur aduk karena membaca tulisan yang mahapenting ini, sebelumnya izinkan aku untuk mengucapkan: seandainya ada salah kata yang terucap dan/atau tertulis, baik yang sengaja maupun tidak (seharusnya sih seringnya tidak sengaja) di blog ini, mohon maaf lahir dan batin ya.


Lebaran kali ini bisa dibilang sangat berbeda jauh dengan lebaran tahun lalu. Rutinitas yang biasanya kami lakukan sekeluarga, seperti mengunjungi situs-situs "lebaran", hanya jadi rencana saja. Kami juga tidak sempat mengunjungi rumah orangtua salah satu sepupu cakepku. Kecewa memang, aku jadi tak bisa... Err, berjabat tangan dengannya.

Atau meminta maaf karena sering memikirkannya tanpa izin.

Kecewa itu sedikit terobati tatkala aku tak sengaja berpapasan dengannya. Hanya sekilas. Saking sekilasnya, kami tetap tidak bisa berjabat tangan!

Seandainya dia mau maju dan tak merasa tak enak melihatku sibuk, (kami sempat bertemu tapi aku sedang sibuk di tokoku dan sedang melayani pembeli) mungkin kami bisa melakukannya. Melakukan jabat tangan, maksudku.

Ada dua sepupu cakep yang menggetarkan hatiku, yang biasa kutemui satu tahun sekali. Dan kebetulan sekali nama panggilan mereka sama-sama berinisial A!

Bila A yang pertama hanya sempat kulihat sekilas, maka A yang kedua...

Apa, kalian menebak kami melakukan lebih dari sekedar jabat tangan? Semisal kami main monopoli bareng?

Sayangnya... Jangankan main monopoli bareng, atau main drama pernikahan (?), bertatap muka saja enggak. Kali ini bukan karena aku tidak berkunjung ke rumah orangtuanya, tapi karena saat aku bersilaturahmi ke sana dia sedang pergi dengan adik tunggalnya!

Sial banget, yak? Padahal aku ingin sekali bertemu mereka berdua, dalam waktu... Setidaknya antara 10-15 menit. Dengan aku bercengkerama dengan mereka, bayangan A yang lain, yang menduduki peringkat teratas hati dan pikiranku, akan bisa tersingkirkan dari singgasananya selama beberapa waktu.

Ini cerita lebaran, atau cerita curhat, sih, hahah.

Oke, oke, lebaran tahun ini pokoknya tidak sama dengan lebaran tahun lalu!

Rencana untuk membeli Penguasa Lalat, yang aku lihat setahun yang lalu di sebuah toko buku (seakan-akan masih ada saja di sana), pun jadi urung.

Untungnya, beberapa teman SMK mengajak untuk reunian. Bertemu mereka, bicara nostalgia masa-masa sekolah dulu, bahkan ada yang main drama pertengkaran yang sempat bikin suasana jadi sedikit canggung—setidaknya bagiku, entah deh yang lain. Tapi... Bertatap muka dengan mereka, bercengkerama, bertukar kabar dan kondisi mereka sekarang secara langsung aka lisan, tidak melalui tulisan di sosial media, cukup mengobati kekecewaanku.

Total ada 10 orang, termasuk aku, yang hadir dalam acara kumpul-kumpul ini. Dengan titik pertemuan "Cafe Kampung Raos" dari Mikro Aria grup yang berlokasi di Kertosono. Diantara kami bersepuluh, aku dan sahabat baikku, si dude, yang datang paling akhir.
Di antara semua yang hadir, yang paling sering mengajakku ngobrol adalah Fat (diambil dari penggalan nama asli, dan dia tidak gemuk sama sekali, malahan dulu saat zaman sekolah perutnya sudah punya sixpack). Fat bertanya soal blog padaku. Dari cara pembuatannya, hingga membuatnya jadi mesin uang. Katanya, dia hendak membuka bisnis, walau katanya juga masih bingung hendak buka bisnis apa, atau bisa juga sengaja menyembunyikan jenis bisnisnya.

Aku sempat nebak, atau mungkin tepatnya membayangkan, dia hendak menjual potret polos artis-artis. Maksudnya, gambar-gambar saat para artis masih kecil, masih anak-anak, masih polos.

Aku ngasih saran yang sederhana saat tahu motivasinya bertanya soal blog: membuka halaman di facebook. Lebih mudah ngurusnya. Bisa diakses lewat ponsel. Dan tentunya, meski banyak yang menyebutnya pasar tumpah, facebook masih merupakan salah satu sosial media yang paling ramai.

Dari Kampung Raos, teman-teman ngajak makan sego pecel di warung lesehan pinggir jalan. Aku tidak tahu nama jalannya, tapi lokasinya dekat dengan kantor pos dan stasiun Kertosono.

Warung lesehan ini tidak bernama. Tidak ada tenda atau papan yang mana tercetak nama. Hanya ada meja tempat jualan dan alas untuk duduk para pembeli. Jumlahnya juga tidak hanya satu, maksudku warung lesehannya, tapi banyak. Menu yang ditawarkan warung-warung ini pun beragam. Dan, walau malam hendak menua, warung-warung ini tak sepi peminat.

Teman-teman memilih warung lesehan yang menjual sego pecel yang meja penjualnya menghadap ke arah utara.

Sego pecel disajikan tidak di atas piring, tapi gabungan kertas koran dan daun pisang yang dibentuk menyerupai kerucut terbuka. Pembeli tak perlu khawatir makan langsung menggunakan tangannya (bahasa jawanya, muluk), sebab penjual melengkapi wadah sajinya dengan sendok.

Rasa sego pecelnya cukup lumayan. Aku cukup kecewa karena tidak menemukan tempe dan sambal kacang, yang jadi ciri khas sego pecel pada umumnya. Di sego pecel ini, yang sayangnya tidak bisa kuabadikan dalam gambar, pembeli hanya bisa puas dengan rempeyeknya (yang gurih dan renyah) dan sayurannya yang di lidahku terasa seperti sayur lodeh.

Belakangan, saat aku membicarakannya dengan si dude, dude bilang sego pecel itu ada sambal kacangnya. Sebagai penggemar sambal kacang tentu saja aku langsung melontarkan, "Kagak ada, dude. Kalau ada pasti lidahku tak salah mencicipi."

"Sambal kacangnya tidak pedas," balas si dude.

Aku rasa, mungkin dia benar. Mungkin memang ada sambal kacangnya, tapi alih-alih pedas seperti yang biasa kutemui di sego pecel yang biasa aku santap, aku memperoleh yang manis. Aku jarang sekali mencecap sambal kacang manis. Mungkin itulah penyebab indera pengecapku cukup kesulitan mengidentifikasinya dan mengira yang masuk ke mulutku adalah sayur lodeh.

Ah, tapi, untunglah sego pecel itu gratis alias ditraktir temen, heheh.

Sayang, di warung kedua ini kesempatan untuk ngobrol dengan teman-teman jadi terbatas. Semua perhatian tertuju pada dua teman kami yang melakonkan dua teman yang bertengkar, dengan salah satu teman seakan-akan muak dan jenuh dan memendam kemarahannya sejak zaman sekolah dan baru ditumpahkan malam itu.

Hanya pertengkaran mulut, tak sampai bak, buk, bak. Mungkin karena berada di tempat umum? Yang bikin aku cukup terkesima, aku baru tahu salah satu temanku itu bisa bicara dengan kecepatan tinggi! Dan ekspresinya... Beuh! Bikin orang yang tidak mengenalnya, atau kenal tapi tak terlalu mengenalnya, menganggap kemarahan itu bukan pura-pura!

Sebuah pemikiran sontak menghampiriku, seandainya dia mau serius nyemplung di dunia hiburan, mungkin dia bisa berhasil.

Setelah puas tertawa-tawa bareng, perut juga telah terisi, janji mengadakan acara seperti ini lagi menguar di udara, kami pun berpisah. Kembali ke rumah masing-masing. Atau ke tempat lain. Seperti si dude, misalnya. Dia menginap di rumahku. Dia tidak pulang karena esok paginya kami ada rencana. Rencana yang biasa kami lakukan tiap hari lebaran.

#Bersambung

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^