Minggu, Agustus 17, 2014

Balada Lebaran #2: Terbatas Waktu

Mengunjungi rumah Bu Puspita, guru fisika kami waktu bersekolah di SMK, saat lebaran tampaknya telah menjadi hal wajib bagiku dan sahabatku, dude. Sejak lebaran hari pertama bahkan sudah terlontar pertanyaan, "Kapan ke rumah Bu Pus?"

Dan yang melontarkan pertanyaan itu selalu si dude.


Biasanya, ditilik dari lebaran dua tahun belakangan, aku bisa langsung memberikan kepastian. Tapi kali ini kondisiku bak terombang-ambing di lautan. Kebingungan. Kehilangan arah. Kompas rusak. Menunggu malam ketika rasi bintang dapat membantuku keluar dari situasi tersebut. Itu pun sambil berharap semoga langit cerah, tak ada awan mendung menutupinya.

Seperti yang sudah kubilang di Balada Lebaran yang pertama, jadwal kami berantakan. Walau Bapak punya waktu liburan lebih lama dibanding lebaran tahun lalu, tapi tak menjamin kami bisa mengunjungi "situs lebaran kami" dan rumah beberapa sanak-saudara. Ditambah mobil sedang rewel, mogok melulu.

Seandainya motor hitam tidak dimodif hingga membuatnya rusak, bukan aku yang memodifikasinya, dan seandainya Bapak tidak bersikeras mengajak... seseorang yang dibangga-banggakannya, mungkin kami tetap bisa mengikuti jadwal tahunan.

Ada sedikit rasa sesal, lebih banyak marah, tapi tak ada gunanya menyimpannya terus-terusan.

Kembali ke soal kunjungan ke rumah Bu Puspita.

Hal yang paling aku suka dari berkunjung ke rumah beliau adalah beliau selalu menatap bangga para muridnya. Dengan bakat apapun yang dimilikinya.

Seperti aku misalnya. Tiap kali ke rumah beliau, beliau selalu memuji bakatku di dunia literasi. Baik itu menulis, maupun membaca. Hal sederhana yang jarang sekali dilakukan oleh keluargaku sendiri yang lebih seringnya menuntut diriku berhasil secara finansial. Bu Puspita juga selalu memberi kabar terbaru mengenai novelku yang pernah diterbitkan secara self-publishing, Cinderella's Fairy. Kabar terbaru yang kuterima, lima novelku itu tak bisa lagi dicari tahu keberadaannya.

Ngobrol bersama Bu Puspita seringnya juga menaikkan rasa percaya diriku. Semangatku naik hingga ke level tertinggi. Membuatku ingin untuk berbuat lebih baik lagi, untuk membuatnya lebih bangga lagi.

Tapi serentak drop ketika aku kembali berada di rumah. Di bawah naungan mata-mata yang menginginkanku berubah menjadi mesin pencetak uang yang cepat.

Topik perbincangan kami, aku dan dude dan Bu Puspita dan anak perempuannya dan, kali ini, ada sanak saudaranya, sebenarnya tak pernah jauh-jauh dari topik yang kami bicarakan lebaran tahun lalu, tapi entah kenapa kami tak pernah bosan membahasnya.

Cita-cita. Teman-teman kami, atau mantan murid Bu Puspita, yang telah atau sedang menuju sukses. Yang beberapa kisahnya ada yang bikin aku iri dan tertantang untuk menyamai mereka. Dunia literasi. Dunia teknologi. Dunia pendidikan. Dan lain-lain. Oh, untuk tahun ini ada satu topik baru, karena sedang happening, politik.

Perbincangan kami yang hangat dan renyah dan hangat (aku dan dude sempat ditraktir bakso!) membuatku, dan mungkin juga dude, sampai lupa waktu.

Pada akhirnya kunjungan kami memang terbatas oleh waktu. Walau aku merasa nyaman di sana, walau aku merasa tak ingin pulang, walau aku ingin sekali kunjungan ini tidak berakhir, tidak mungkin kan kami ada di sana selamanya? Walau mungkin menginap sehari semalam tak akan membuat Bu Puspita keberatan. Yang keberatan justru adalah keluarga kami yang di rumah.

Menit-menit sebelum kami pulang, aku dan dude sempat bersalaman dengan putra Bu Puspita. Sayang sekali kami tak memiliki kesempatan mengobrol dengannya, padahal dia punya pemikiran yang enak sekali diajak dalam sebuah perdebatan.

Meski kunjungan ke rumah Bu Puspita berakhir, kami tidak lantas pulang. Di tengah perjalanan, dude tiba-tiba berinisiatif mengajakku ke tempat lamanya bekerja, yang kebetulan sering aku kunjungi di masa lampau, dan rumah temannya yang rumahnya berada tepat di depan rumah mantan bosnya. Tidak selama saat kami di rumah mantan guru SMK kami itu, tapi bisa kukatakan kunjungan ke rumah temannya dude ini bisa dibilang seru juga. Kami tertawa-tawa bareng, saling cela tapi dengan maksud bercanda. Teman dude ini juga termasuk ramah, dan sikapnya tanpa kepura-puraan, walau kami baru pertama kali ini ngobrol panjang lebar.

Pada hari itu, jam onlineku berkurang dratis. Tapi tak masalah, aku mendapatkan hari yang menyenangkan. Hari lebaran yang cukup menyenangkan.

Oh, ya, jangan dikira "petualangan"-ku bersama dude di hari lebaran berakhir. Keesokan harinya kami masih jalan bersama mengunjungi teman kami yang beberapa tahun belakangan ini bekerja mengarungi lautan. Pertemuan yang kurang lebih sama menyenangkannya, lagi-lagi kami ditraktir makan bakso (kayak nggak ada pilihan lain, ya? Sebenarnya ada cuman aku nggak doyan dengan pilihan yang lain itu), dan lagi-lagi terbatas waktu. Kenapa sih waktu harus berjalan begitu cepat saat kita merasa gembira?

Tidak heran kemudian di masyarakat berkembang kalimat "membekukan waktu dan hidup di dalamnya."

Ketika mengalami hal itu pun aku merasa demikian. Ingin sekali memiliki alat penghenti waktu yang dimiliki Doraemon atau kemampuan menghentikan waktu seperti yang dipunyai Hiro Nakamura dari Heroes.

Dan itulah sedikit kisahku di hari-hari lebaran. Bagaimana dengan kisah lebaran kalian? Mau membaginya denganku?

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^