Jumat, Agustus 22, 2014

Pemuda Berhelm Racing

Beberapa hari belakangan ini, indera penglihatanku menangkap seliweran seseorang yang naik sepeda motor menarik temannya yang mengendarai sepeda onthel. Entah memang ingin terus mengobrol atau murni ingin meringankan perjalanan temannya, yang pasti mereka mengingatkan aku akan kejadian yang berlangsung sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMK.


Hari-hariku semasa SMK dulu bisa dibilang penuh perjuangan. Terutama kala berangkat sekolah. Ban bocor, baik yang besar (yang mesti ditambal) atau kecil (yang masih bisa digunakan selama ada udara di dalamnya, sehingga tiap jarak tertentu minta dipompa udara), rantai yang lepas dari gearnya (dalam bahasa jawa disebut dengan los), tangan belepotan oli rantai, sudah menjadi makanan sehari-hariku.

Mau marah, juga percuma. Blake, nama sepedaku tersebut, memang sepeda tua, warisan dari kakakku, dan satu-satunya sepeda yang bisa kugunakan ke sekolah. Mau menuntut pada orangtua untuk memberikan sepeda baru, mereka... Tak mampu. Jadi, ya, aku hanya bisa pasrah.

Suatu pagi, dalam perjalanan berangkat ke sekolah, ketika aku mengayuh Blake dalam kecepatan super tinggi dalam skala sepeda, tiba-tiba rantai Blake patah. Sontak saja aku panik. Jarak ke sekolah masih cukup lumayan jauh. Sekitar 3 Km-an. Sementara, seperti layaknya di adegan sinetron atau FTV, beberapa menit lagi bel sekolah, tanda pelajaran jam pertama hendak dimulai, berdentang. Dan jalanan bisa dibilang sudah sepi oleh anak-anak sekolah, kecuali yang naik angkutan umum. Tak ada yang bisa dimintai tolong.

Benakku terbagi ke dua arah. Antara menuntun Blake hingga sekolah, atau menitipkannya di rumah warga. Aku tak masalah menuntun Blake, aku yakin kedua kakiku sanggup membawaku sampai tujuan. Aku juga tidak bakal malu melakukannya. Tapi perjalanan itu akan memakan waktu yang lama. Bila aku melaksanakannya, aku bakal sampai ke sekolah ketika bel tanda jam kedua dimulai berteriak kencang.

Aku bisa saja menitipkan Blake ke rumah salah satu warga, lalu naik angkutan umum. Tapi uang sakuku hanya cukup untuk ongkos satu perjalanan saja. Bila aku mengeksekusi niatku tersebut, bagaimana aku pulang nanti? Jalan kaki dari tempat itu ke sekolah dan sebaliknya aku kuat, tapi kalau dilanjut ke rumah... Mungkin baru senja aku sampai ke rumah.

Waktu yang terus berdetak, tak peduli dengan kemalangan yang tiba-tiba menghampiriku, makin membuatku panik. Aku harus segera memutuskan. Terlambat dengan risiko dihukum, atau tepat waktu tapi pulang dengan jalan kaki?

Aku memilih pilihan kedua.

Aku tak mau terlambat. Urusan pulang, nanti-nanti saja. Siapa tahu nanti pas di jalan aku ketemu orang baik yang bisa ditumpangi. Aku menitipkan Blake di sebuah bengkel motor dan mobil. Kemudian aku menghentikan sebuah angkutan umum.

Selama di sekolah, benakku tak bisa berhenti memikirkan kedua kakiku yang akan bengkak. Aku juga tak sempat berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk mendatangkan Doraemon yang berasal dari masa depan untuk meminjamiku sebentar pintu kemana saja atau baling-baling bambu.

Dari sini, dude masuk.

Dude, sahabat baikku, dari zaman SMK memang sudah terkenal baik. Aku tahu rumahnya dan rumahku jaraknya sangat jauh, tapi kami searah. Atau 3/4 perjalanan kami searah, sebelum aku berbelok kiri dan dia terus. Aku memberi tahunya masalahku. Dan dia tanpa ragu sedikut pun setuju mengantarku hingga ke persimpangan di mana kami biasa berpisah.

Aku sangat lega mendengarnya.

Perjalanan yang awalnya aku bayangkan akan berjalan mulus, dalam kenyataannya berjalan dengan susah payah. Brown, sepedanya dude, sama tuanya dengan Blake. Dengan kami berdua menaikinya, jadinya, dia berjalan sangat perlahan.

Tapi itu tak mengapa, lebih baik perlahan daripada pulang kaki.

Setengah jalan dari tempat aku menitipkan Blake, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menawarkan tangan kirinya untuk kupegang. Dia berpakaian biasa, pertanda dia mungkin sudah tak bersekolah, atau sekolahnya sudah berakhir sejak tadi. Dia mengenakan helm racing, helm yang menutup seluruh kepala. Jadi aku tak bisa memastikan berapa usianya karena tak bisa melihat wajahnya.

Saat mengulurkan bantuan kecil itu, dia tak mengatakan apa-apa. Dia memelankan motorkan dan menjejeri Brown, menyodorkan tangannya padaku, lalu menarik kami, meringankan perjalanan kami menuju lokasi penitipan Blake.

Pahlawan sebenarnya dari kisah ini adalah dude. Di persimpanga, dia bahkan memutuskan untuk mengantarkan aku dan Blake hingga ke rumah. Betapa aku sangat beruntung memilikinya sebagai sahabat!

Lalu, kenapa justru cowok yang hanya muncul selewat pandang itu yang jadi judul?

Jangan-jangan kamu suka dengannya ya, Jun? :O

Aku memang suka dengannya. Tapi tidak dalam pandangan romantis. Aku suka dengannya karena dia jelas sekali ikhlas dalam memberikan tangannya, bantuan kecil yang hingga kini aku masih mengingatnya. Bantuan kecil tanpa kata yang mungkin tak akan pernah kulupakan sampai kapanpun.

Ah, seandainya dirimu tidak menggunakan helm seperti itu.

Wahai pemuda berhelm racing, siapapun engkau dan dimanapun engkau, aku harap engkau mendapat kebaikan yang engkau taburkan. Amin.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^