Sabtu, Agustus 30, 2014

Sekarang Semua Orang Bisa Terbang

Begitu pula aku.
Suatu hari nanti.

Sepanjang hidupku hingga detik ini, jujur, aku belum pernah yang namanya menunggangi burung besi. (Ya kali, nyebut pesawat aja dengan burung besi.) Satu-satunya ingatan yang berhubungan dengan pesawat yang kumiliki hanya ini: ketika mendengar dan melihat pesawat melintas di langit, aku, yang saat itu masih belia, belum mengenyam yang namanya bangku sekolah, dan teman-temanku suka sekali berlari-lari, seolah-olah hendak mengejar sang burung besi dan menunggunya mendarat—persis seperti mengejar layang-layang yang putus benangnya, sambil berteriak, "HOOOIII... PESAWAT, AJAK AKU" atau kadang hanya sekedar menjeritkan sapaan hai/hello sambil melambaikan tangan seakan-akan suara kami akan sampai ke telinga para penumpang.


Harap maklum. Saat itu aku dan teman-temanku belum tahu bahwa pesawat tidak boleh mendarat di sembarang tempat. Saat itu dalam bayangan kami, pesawat itu ukurannya sama besar seperti batang pisang, yang dapat ditunggangi tapi punya kemampuan mengangkasa.

Waktu berlalu. Usia dan pemahamanku bertambah. Aku mulai tahu soal bandara, soal kegunaan pesawat yang ternyata bukan untuk bermain, tapi alat transportasi yang mana bisa mengangkut dan menjangkau seluruh dunia dalam waktu singkat. Aku juga mulai tahu bahwa ada banyak sekali negara di dunia, juga tempat-tempat indah bak surga di seluruh penjuru bumi, yang membuat manusia paling pesimis pun menarik ucapannya akan dunia yang merupakan tempat yang tak layak untuk ditinggali.

Termasuk tahu bahwa tarif untuk menaikinya sangat tidak ramah bagi kantongku.

Padahal benak dan mata ini ingin dipuaskan dengan suguhan pemandangan indah. Pemandangan indah yang alami, yang menyejukkan hati, yang menghadirkan perasaan bahwa aku adalah raja dunia.

Tapi tampaknya aku harus mengurungkan niatku. Atau tepatnya menunda keinginanku dan mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit.

Hal yang tidak mudah. Maksudku, menyisihkan uang setumpuk demi setumpuk. Aku sempat beberapa kali nyaris menyerah melakukannya, mengingat butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk mengumpulkan biaya yang kemudian ditukar dengan sebuah tiket. Tapi bayangan diri ini berada di pegunungan paling terkenal di dunia, Himalaya, memakai baju tebal berlapis-lapis, menyentuh saljunya yang dinginnya menggigit, atau bayangan diri ini mengunjungi negeri kiwi, melihat burung kiwi berlari sambil menikmati segarnya buah kiwi, atau bersantai di pinggir pantai Kutha setelah beberapa hari menjelajahi tiap lekuk keindahan pulau yang digadang-gadang pulau teramai ketiga di seluruh dunia, Bali, membuat tekadku untuk menabung guna mendapatkan secarik kertas itu kembali lagi.

Hingga...

Aku tahu soal AirAsia.

Iklannya di televisi nasional sempat membuatku tersedak (aku dalam posisi sedang makan malam). Aku bahkan juga sampai harus minum air sebanyak dua gelas untuk menenangkan diriku, dan mengedipkan mataku berkali-kali yang mungkin telah kering karena sepanjang saat iklan AirAsia ditayangkan mataku tak mau dikatupkan! Tujuan penerbangannya menggiurkan, tapi yang jauh lebih menggiurkan, dan nyaris bikin aku jantungan, adalah harga tiketnya yang amat sangat terjangkau! Aku lupa destinasinya kemana, tapi hanya dengan uang kurang dari 100.000 rupiah, alias hanya puluhan ribu rupiah saja, kita sudah bisa menikmati yang namanya naik pesawat!

Gara-gara AirAsia, aroma kesegaran Himalaya tercium hidungku, desir ombak dan irama tari Kecak menyeruak mengisi indera pendengaranku. Apakah seperti ini rasanya mimpi yang sebentar lagi mewujud menjadi nyata?

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^