Kamis, September 25, 2014

Aku Tahu Siapa Dirimu

Beberapa minggu belakangan ini, aku mendapat pesan dari nomor yang tak kukenal. Atau mungkin dulu kukenal, tapi telah lama kuhapus dan tentunya aku tak hafal dengan kedua belas digit tersebut.

Pesannya sebenarnya agak lucu. Di awal-awal pengiriminan, dia agak takut-takut dan berhati-hati. Tapi setelah sering mendapat respon yang sedikit jutek, yang artinya juteknya tidak banyak dan sukses bikin aku penasaran dengan identitasnya yang dirahasiakan, dia mulai berani mengirimkan sms-sms lain.


Tidak. Tidak sampai vulgar. Tidak menyerang atau melecehkan juga. Keberanian ini hanya berupa pesan-pesan berisi quote-wannabe. Aku menambahkan W-word karena... Gimana ya? Dibilang quote tapi kata-katanya antara maksa dan nggak nyambung dan debatable.

Kayak semisal begini:

Mencintai seseorang yang tak membalas cinta kita itu rasanya persis kayak penyakit herpes, tak bisa diobati hingga sembuh total tapi bisa dikurangi efeknya dengan obat dari dokter.

Sebenarnya, contoh diatas agak berlebihan. Kalimat dia jauh lebih sederhana, walau ada "puntiran-puntiran" dikit biar tampak puitis (tapi gagal xP ).

Oh ya, contoh itu murni buatanku, bukan buatan dia, sebab kalau pakai punya dia... Gimana kalau dia nuntut diriku karena memakai karyanya? Nggak lucu dong.

Dan soal identitasnya.

Pada awalnya, aku mengira nomor ini milik salah satu sobatku. Gaya bahasa dalam pesannya agak nyaris mirip dengan gaya perpesanan sobatku. Tapi dugaanku salah.

Pas dia bilang berdomisili di Kota Suramadu, aku percaya-percaya saja dan memutar otak siapa kira-kira dirinya. Sempat tebersit di benakku bahwa yang melakukan pesan kaleng (?) ini adalah gebetanku. Tapi aku sontak menghalaunya. Selain untuk menghindari kekecewaan yang tak perlu, aku tahu itu hanya harapan kosong. Aku sudah bosan terperangkap dalam delusi yang aku buat sendiri.

Lalu kemarin, akhirnya dia, setelah kupaksa berkali-kali, memberi petunjuk mengenai siapa dirinya.

Dan aku menduga satu nama. Yang ternyata benar. Aku sudah mencek ke akun fb-nya, yang nomornya, nomor yang digunakan untuk "sok misterius", dengan sangat cerobohnya ditulis di dindingnya.

Dia adalah... Mantan pacarku. Yang punya kecenderungan berbohong. Yang mengoyak rasa percayaku.

Dan ya, saat memberi petunjuk ini, sudah aku duga juga, tidak semua petunjuk yang dia berikan adalah kebenaran.

Sayang sekali, memang. Aku sudah memaafkannya, untuk kesalahannya yang dulu, yang ajaibnya, dari pesan di hari yang sama, yang masuk dalam petunjuk yang dia berikan, diberi pembelaan yang jujur bikin aku pengen... Ah, sudahlah. Toh, dia tidak berada di kota yang sama denganku.

Pada akhirnya, setelah aku tahu identitas dia yang sebenanya, aku memilih untuk berpura-pura untuk menjadi anak ayam yang kehilangan induknya. Dan lugu, dan akan terus-menerus tak berpura-pura tak tahu siapa dirinya hingga dia mengaku sendiri.

Itu pun kalau dia sadar diri. Yang aku ragukan. Gimana mau sadar diri, kalau kepekaan saja dia tak punya?!

Tapi, hei, berharap yang baik-baik tidak ada salahnya, kan? Walau, yah, kemungkinan terjadinya sangat kecil.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^