Sabtu, Oktober 11, 2014

Apapun Yang Terjadi, Aku Akan Tetap Berada Di Sampingmu

Dua hal yang paling aku benci belakangan ini:

1. Meteor yang datang dari luar angkasa (ya kali, seolah-olah ada meteor datang dari dalam tanah). Eh, atau meteorit? Secara ini meteor yang lolos menembus atmosfir dan mencium permukaan bumi dengan dahsyatnya? Saking dahsyatnya, hantaman itu membuat bumi menjadi tempat seperti sekarang; gersang, langit ditutupi kegelapan, seakan-akan siang tidak pernah datang, tumbuhan—dimana tinggal bagian yang tak bisa dimakan—pada layu dan mati, dan bahan makanan... kalian pasti sudah bisa menebaknya: menjadi rebutan. Beberapa rela membunuh hanya demi sebutir apel busuk. Karena kalian bisa menebaknya, detail yang lain tidak perlu aku jabarkan, aku rasa.



2. Dia. Seseorang yang kini membungkuk di sampingku. Oke, aku bohong. Aku sebenarnya tidak membencinya. Kalau membencinya, aku sudah memilih bunuh diri sendiri sejak dulu. Dia adalah satu-satunya alasanku masih menghirup udara beracun di dunia laknat ini. Tapi... ah, gimana jelasinnya, ya? Pokoknya "kebencian" itu bermula ketika dia menolak ajakanku yang bunuh diri itu. Jangan salah, dia tidak menolak dengan amarah yang meletup-letup, tapi dengan semangat yang menggelora. Katanya saat itu, "Hidup itu tantangan. Dengan mengakhirinya sekarang sama saja dengan kita kalah."

Coba tebak apa jawabanku? Ya, betul, aku tidak memberinya jawaban. Untuk apa? Demi agar kita terus hidup. Seperti yang dia inginkan dan maui. Dengan terus-menerus berargumen, aku takut kehilangan kesabaranku dan meneriakkan emosiku yang menggelak.

Aku tidak masalah dia marah sedikit padaku, aku masih bisa minta maaf dan rayuanku, saking mautku, pasti bikin dia tak akan menunda memberiku kata maafnya. Tapi suara keras akan mengundang mereka, para antagonis, datang. Dan percayalah, mereka akan mendatangkan kematian yang pelan dan menyakitkan bagi korban-korbannya.

Kematian perlahan-lahan adalah hal terakhir kedua yang aku inginkan. Hal terakhir pertama—masa sih perlu kalian tanyakan?—melihat orang yang kini disampingku menderita.

Suatu siang (walau matahari tak bisa menembus awan, tapi langit cukup terang untuk disebut siang), kami menemukan rumah yang cukup terawat. Jelas ada orang yang menggunakannya. Dan jelas, pasti ada makanan yang bisa... haruskah aku menuliskannya? Oke, kami menduga ada cukup banyak makanan yang bisa kami curi. Makanan basi tidak mengapa (hari gini jangan mengharap makanan yang belum kadaluarsa, yah, kecuali kalian menemukan madu lebah asli), asal kami bisa bertemu dengan esok hari.

Rumah itu tidak dijaga. Ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Atau para pemiliknya. Oh ya, beberapa orang seringnya membentuk kelompok untuk mencari orang lainnya untuk dijadikan makanan.

Jangan heran gitu. Bahan makanan langka, (sebagian) manusia jadi saling memangsa.

Eh, apa tadi aku belum bilang kalau orang jahatnya adalah manusia? Oke, maafkan aku karena lupa. Mereka memang manusia. Orangjahatnya selalu manusia. Penyebabnya mungkin dari luar angkasa, tapi biang kejahatan di muka bumi, ya itu lagi itu lagi.

Cintaku berkata, "Kita masuk?"

Aku bilang, "Sejak kapan pilihanku menjadi pilihan?"

Dia berkata lagi, "Kamu tidak lapar?"

Aku, "Laparlah. Tapi aku bosan dengan makanan berjamur."

Dia, "Tidak ada pilihan lain. Atau kamu mau makan daging manusia?"

Aku, "Membayangkannya saja bikin aku mual." Aku terdiam sejenak, memberinya jeda berpikir, lalu berkata lagi, "Kamu tahu apa yang bisa dilakukan untuk terhindar dari kelaparan yang menyiksa ini."

Dan dia melakukan tindakannya yang biasa tiap kali aku menyinggung soal pergi dari neraka ini selamanya: berpura-pura seolah dia tunarungu.

Rumah itu dikunci, tentu saja. Jendelanya ditutup dengan benda-benda berat seperti lemari. Aku sempat bersorak dalam hati, aku selalu benci memasuki rumah para kanibal (aku menduga demikian karena belakangan yang suka menetap di sebuah rumah adalah para kanibal), walau luarnya bersih, dalamnya seringnya berbau amis dan lantai dan dindingnya mendapatkan dekorasi baru berupa percikan cat berwarna merah, tapi kemudian seseorang-yang-kubenci-tapi-sekaligus-kucintai-setengah-mati melihat jendela lantai dua yang sangat berpotensi menjadi pintu masuk.

Kami menemukan tangga di samping rumah. Tapi tangga itu tidak cukup panjang untuk menjangkau atap. Tidak ada pohon yang bisa kami panjati. Kekasihku tak hilang akal. Dia melihat celah antara rumah yang cukup terawat ini dengan rumah tetangga sebelah, yang mempunyai kondisi sebaliknya, tidak terlalu jauh. Bila tangga yang kami temukan diletakkan melintang... Duar! (oke, oke, aku tidak memilih ekspresi yang benar, tapi bodoh amatlah), kami mempunyai jembatan.

Rumah tetangga sebelah sangat berantakan, bekas diobrak-obrik. Debu menutupi seluruh ruangan. Beberapa tempat, seperti sudut-sudut langit-langit dan di bawah lemari yang terguling, telah diklaim oleh beberapa serangga yang selamat dari tangan-tangan manusia yang kelaparan. Walau bak kapal pecah, setidaknya rumah itu tidak menguarkan aroma kematian.

Kami langsung menuju lantai tiga yang sejajar dengan atap rumah yang jadi tujuan kami. Tangga yang kami temukan melaksanakan tugas barunya sebagai jembatan dengan baik. Jendela yang kami terobos tidak memberi halangan yang berarti. Hanya diselot biasa. Terbuat dari kaca yang mudah dipecah

Harusnya hal itu, kemudahan itu, menyalakan alarm di kepalaku. Tapi entah kenapa saat itu si alarm memilih untuk libur.

Setelah berada di dalam dan turun ke lantai satu, dia berkata, "Rumah ini sangat rapi, ya?" Dia menghela udara dalam-dalam, "Dan wangi."

Aku setuju dengannya. Tidak usah memandangiku dengan pandangan itu. Aku tahu aku sering sekali setuju dengan ucapan. Beberapa diantaranya, yah, terpaksa. Tapi kali ini aku benar-benar setuju dengannya. Rumah ini adalah rumah terbaik sepanjang karir kami sebagai penjarah. Tampaknya debu diusir keluar tiap hari. Dan tampaknya, penempatan lemari-lemari di jendela itu selain untuk memberi efek pengusiran, juga untuk melindungi apa yang ada di dalamnya dari pandangan mata.

Kerapian rumah ini patut diacungi jempol. Pasalnya tiap pintu dan beberapa benda ditempeli kertas bertuliskan fungsi masing-masing. Seperti semisal pintu di sebelah kanan kami yang merupakan kamar Margo dan Larry. Kamar di sebelahnya: kamar Marcus, Harry, Peter. Sebelahnya lagi, Leah dan Bobby. Sebelahnya lagi ruang harta (harta apa yang disimpan, kira-kira?). Bahkan tempat sampah pun dibagi jadi dua: basah dan kering. Entah apa alasan mereka melakukannya, aku sama sekali tak ambil pusing. Tapi aku rasa aku bisa sedikit yakin mungkin rumah ini bukan tempat tinggal para kanibal.

Di dapur pun, kami menemukan kertas-kertas label berbagai nama makanan dipasang di berbagai tempat. Acar di stoples. Makanan kaleng dan makanan instan di lemari-lemari atas. Di lemari bawahnya khusus untuk buah-buah kalengan. Daging ada di kotak logam di sudut terjauh dari jendela—yang ditutup oleh lemari es. Bahkan kami juga menemukan satu di lantai, ukurannya cukup kecil sampai-sampai jika kalian tidak teliti kalian pasti akan melewatkannya, bertuliskan "makanan darurat". Pintu jebakan yang jelas mengarah ke ruang penyimpanan bawah tanah.

Kami bersorak. Penemuan ini jelas panen besar!

Aku bergerak ke lemari penyimpanan makanan instan, sementara kekasihku berderap ke tempat penyimpanan berbagai jenis minuman: teh, kopi, susu. Dan... Coba tebak apa yang kami temukan? Apakah kami menemukan potongan tubuh manusia? Atau organ manusia? Atau tulang-belulang? Sayangnya kami harus mengecewakan kalian, kami tidak menemukannya. Yang kami temukan adalah... Tidak ada.

Ya, tidak ada. Alias kosong. Bahkan debu pun tidak ada.

Aku jadi penasaran, mungkinkah pemilik rumah ini benci atau alergi pada debu sehingga harus membersihkan tiap sudutnya? Maksudku, hei, listrik sudah tidak ada. Apa nggak capek membersihkan dengan tangan?

Kami memeriksa semua tempat penyimpanan, dan mendapati hal yang sama. Hanya stoples acar, yang tidak bening, yang ada isinya. Air rendamannya, acarnya sudah lama hilang, dan itu pun hanya tinggal seperempatnya. Menyisakan ruang bawah tanah untuk diperiksa.

Saat ini kalian mungkin menduga yang tidak-tidak. Dari kami yang menemukan potongan daging manusia yang digantung di langit-langit atau berceceran di mana-mana, hingga manusia hidup yang diikat dan menunggu untuk dimasak. Sayangnya, aku tidak pandai dalam membangun suasana tegang jadi langsung kukatakan saja: dugaan kalian benar!

Ketika kami membuka pintu yang dikunci dengan gembok kecil itu, kami menemukan manusia-manusia yang menjadi makanan darurat pemilik tempat ini.

Manusia-manusia itu tak memakai benang sehelai pun dan tangan dan kaki mereka, terikat rantai yang terpasang di dinding. Waktu mereka melihat kami, mata mereka serentak membulat dan mereka berteriak bersama-sama:

"TOLONG! TOLONG KAMI!"

Sayangku sama terkejutnya dengan mereka. Tapi yang paling membuatnya terkejut adalah seorang pria yang kehilangan kedua kaki dan tangannya dan alat vitalnya dan seorang wanita berkaki satu yang kini dadanya serata lapangan parkir sebelum meteor datang menghantam bumi

Detik berikutnya, dari atas sayup-sayup kami mendengar suara seorang pria: "Aku pulang!"

Para "makanan darurat" berteriak heboh.

Tanpa berkata-kata, aku menarik seseorang-yang-jadi-alasanku-ada-disini naik ke atas. Kembali ke dapur. Para pemilik rumah tampaknya masih di ruang tamu, tak peduli jeritan memilukan orang-orang di ruang bawah tanah, tenggelam dalam argumen yang tidak menarik untuk didengarkan: mereka tidak mendapat satupun tangkapan. Memberi kami kesempatan mencapai tangga dalam diam. Tangga ke lantai atas ada di ruang tengah.

Kami berhasil sampai dilantai dua, kami bahkan berhasil sampai di atap rumah sebelah, setelah itu... tali sepatuku tersangkut tangga dan membuatnya jatuh tertarik gravitasi.

Kejatuhannya menimbulkan suara keras.

Suara itu menarik orang-orang di rumah sebelah.

Kami dan mereka bersitatap. Dan seolah-olah terjadi kesepakatan, kami berperan jadi korban dan mereka pemburunya. Mereka lalu balik badan ke dalam rumah, mengambil senjata yang akan digunakan untuk menjegal langkah kami. Tapi ada satu yang tidak ikut masuk. Dia seorang pria. Dan dia membawa kapak. Dan dia melemparkannya ke arahku. Aku menghindar. Tindakan bodoh yang amat kusesali.

Kapak itu menancap di paha kekasihku!

Jeritannya jauh lebih membuatku takut dari mata lapar para pemburu kami.

Dia berkata, "Nick, cepat pergi!"

Aku menyuruhnya diam dengan bunyi "shush", lalu memperhatikan lukanya dan mengira-ngira
bagaimana mencabut kapak sialan itu dari kulit orang-terpenting-di-hidupku itu.

Dia menyuruhku pergi lagi.

Aku berkata jengkel, "Aku tidak bisa pergi, John."

Tahu apa yang lebih keren dari paha cintaku yang basah oleh darah? Yap, kami terjebak di rumah yang ironisnya sempat aku sebut sebagai rumah yang tak menguarkan bau kematian.

Rasa panik menjangkitinya, "Aku bisa mengatasi ah—" aku berhasil mencabut kapak brengsek itu—" mereka. Kamu pergilah."

Aku diam saja. Tanganku memmbebat pahanya dengan ujung kemejaku yang kurobek. Aku tidak ahli dalam hal ini, tapi semoga itu cukup untuk menghentikan darahnya yang mengucur.

Dia, "Nicki!"

Aku, "Apa?"

Para pemburu sudah masuk ke dalam rumah.

Dia, "Pergilah. Aku bisa mengalihkan perhatian mereka sejenak. Kamu masih bisa selamat."

Aku, "Dan untuk apa aku selamat? Kamu adalah satu-satunya alasanku bertahan di neraka ini. Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sampingmu."

Saat itu juga dia merengkuh wajahku dan menyatukan bibirnya dengan bibirku. (O-oke, aku tahu apa yang kalian pikirkan, kok masih sempat-sempatnya, iya, kan? Kalau bukan sekarang, terus kapan?) Yang malah bikin bebatanku terbuka dan membuat darah kembali merembesi pahanya. Tapi dia tampak tak peduli. Lagipula tak ada waktu untuk memperbaikinya, aku rasa. Para pemburu itu sudah sampai di lantai yang sama dengan kami.

Dia, "Sampai titik darah penghabisan?"

Aku bersyukur tidak membuang si kapak sialan. Aku sempat ingin sekali membuangnya, karena benda ini telah membuat sang penghuni hatiku kesakitan. Benda ini sebentar lagi akan terbukti sangat berguna melawan para pemburu kami, yang berlari secepat cheetah dan mata merah, mungkin, karena iritasi ringan.

Aku menghela napas berat, bersiap-siap. Apa boleh buat, walau kami pasti kalah—daripada menyerahkan daging dan organ kami secara cuma-cuma, lebih baik melawan dengan segenap tenaga yang kami punya. Aku berkata untuk terakhir kalinya, "Sampai titik darah penghabisan."

Catatan:
[1] Cerpen ini diikutsertakan dalam Cerita Bulanan Bulan September grup goodreads Kastil Fantasi.

[2] Cerpen ini adalah versi panjang dan versi after-edit dari versi yang dipampang di grup goodreads Kastil Fantasi.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^