Senin, Oktober 13, 2014

Jendela

Mrs. Darlings tahu, dia tidak seharusnya pergi ke rumah no. 27. Berulang kali dia mengarahkan pandangannya menatap tembok di sebelah kanannya. Seolah-olah dengan ditatapnya terus-terusan, tembok itu akan malu dan tergerak nuraninya untuk pergi, dan tidak menghalangi penglihatannya yang lurus ke arah rumahnya. Rumah yang beberapa menit lalu ditinggalkannya bersama suaminya demi memenuhi undangan tetangganya. Rumah di mana dia meninggalkan ketiga mutiara kecilnya [Wendy,John, dan Michael] yang tertidur lelap dibiarkan tanpa pengawasan.


Tentu saja tidak benar-benar di luar pengawasan. Tapi bukan jenis pengawasan penuh. Liza, asisten rumah tangganya (pembantu), yang sibuk di dapur menyiapkan hidangan Natal, tidak bisa setiap waktu menjenguk mereka. Sementara Nana,anjing yang biasa ditugaskan menjaga anak-anak (babysitter), karena menyinggung gengsi majikannya diikat di halaman belakang rumah jadinya, hanya bisa mengawasi mereka dari luar.

Sudahlah, mereka aman dan baik-baiksaja, Mrs. Darlings membatin, lagipula kau tadi sudah memastikan jendela kamar anak-anak terkunci rapat.
Apa kau yakin? sahut suara lain di dalam dirinya, yang masih skeptis, yang diliputi pikiran buruk. Apa kau lupa dengan apa yang dikatakan, Wendy?
Mrs. Darlings ingat, sangat ingat, apa yang dikatakan putri sulungnya itu.

"Itu bukan gonggongan kesedihan," kata Wendy. "Nana hanya menggonggong seperti itu ketika mencium bahaya."

Yang jadi masalah, bahaya seperti apa yang diendus oleh Nana? Ada bermacam-macam jenis bahaya. Penculikan menduduki peringkat teratas di benak Mrs. Darlings. Diikuti kebakaran yang mungkin dipicu oleh lampu tidur (night-light).

Tapi lampu tidur menyala hanya sebentar, ukurannya juga kecil, mustahil dapat menyebabkan kebakaran, kembali Mrs. Darlings membatin.

Apa kau yakin? Lagi-lagi suara lain dalam dirinya ikut nimbrung. Bukankah hanya butuh waktu sekejab untuk merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun? Bukankah semua hal besar selalu berawal dari hal kecil? Dan apakah kau lupa dengan kisah David dan Goliath, di mana sesuatu yang tampaknya mustahil bisa jadi mungkin?

Mrs.Darlings ingin sekali berteriak. Ah, seandainya hal yang pasti di dunia ini bukanlah ketidakpastian.

Makanan lezat yang tersaji di hadapannya, mungkin tidak akan pernah disentuh Mrs.Darlings jika sang nyonya rumah tidak menghentikan adu argumen di dalam benaknya dengan berkata, "Apakah Anda tidak menyukai makanannya, Mrs.Darlings?"

"Ya," jawab Mrs. Darlings tanpa sadar. Wajah beberapa orang yang hadir di pesta mengumandangkan ketidaksetujuan. Dasartidak sopan! begitulah kira-kira artinya. Wajah sang nyonya rumah tampak tidak senang. Hanya sekilas, sebelum disembunyikan dalam wajah ceria yang dibuat-buat.

"Anda suka apa? Mungkin Betsy bisa menyiapkannya untuk Anda." Kemudian mulutnya membuka lebar. Mungkin hendak memanggil Betsy, asisten rumah tangganya.

Buru-buru Mrs. Darlings angkat bicara, "Uh-oh, maksud saya, tidak. Tidak. Saya suka dengan makanan-makanan yang Anda hidangkan. Hanya saja..."

Mr. Darlings mengerutkan keningnya pada istrinya. Mencoba bertanya melalui ekspresimuka, Ada apa?
Tapi Mrs. Darlings sedang tidak melihat ke arahnya. Dia menundukkan kepalanya. Tahu bahwa seluruh mata di ruangan itu memandang ke arahnya. Menunggu lanjutan kalimatnya yang terputus.

"Hanya saja..." ulang Mrs. Darlings, bingung bagaimana harus melanjutkan kalimatnya. Dia kembali menolehkan kepalanya ke sebelah kanan.

"Ah, Anda suka lukisan kami?"

"Luk—" Mrs. Darlings baru menyadari dinding yang sejak tadi ditatapnya memuat bingkai lukisan yang sangat besar. Lukisan yang cukup indah. Lukisan yang bakal mengundang decak kagumnya, bila boleh ditambahkan. Bagaimana mungkin dia bisa melewatkannya? Tampaknya kekhawatiran yang bercokol di hatinya telah mengacaukan indera penglihatannya.

"Anda punya lukisan yang indah," kata Mrs. Darlings tulus. Di detik berikutnya,dia memutuskan untuk mengatakan sejujurnya apa yang mengganggu pikirannya,"Hanya saja," Dia melanjutkan kembali kalimatnya yang sempat terputus tadi, "saya agak cemas dengan anak-anak."

Aura pengertian menguar dari sang nyonya rumah. Begitu pula beberapa orang lainnya. Ada juga beberapa pria yang melempar isyarat seksis sesama mereka yang kuranglebih memiliki arti yang sama, "Wanita!"

Mrs. Darlings bersyukur nyonya rumah tak menanyainya lebih lanjut. Dia melirik sekali lagi dinding di sebelah kanannya, dinding itu masih di tempatnya, tidak bergeser satu inci pun, kemudian mulai menyendok makanannya demi kesopanan.

Makanan itu, tepatnya sup itu, terasa hambar di mulutnya. Kekhawatiran yang merundunginya tampaknya juga merusak indera pengecapannya. Mrs. Darlings bersyukur George, suaminya, duduk di sampingnya. Bila tidak, bisa-bisa dia dianggap tidak sopan karena hampir acuh tak acuh pada setiap pertanyaan dan basa-basi yang dilontarkan.

Kemudian terdengar rentetan suara yang sangat familiar dari luar. Suara—tak lain dan tak bukan—milik Nana. Wajah Mrs. Darlings berubah pucat. Rasa cemas yang semenjak tadi menggelayutinya seketika menggelembung sebesar bulan.

Kedatangan Nana, dengan belenggu yang putus masih terikat di batang lehernya, sontak membuat heboh ruang makan rumah no. 27. Tapi tampaknya Nana tak peduli. Dia sudah melihat dua majikannya dan segera membuat gerakan yang dikenali Tuan dan Nyonyanya sebagai gerakan "Tangan-tangan yang Meraih Surga", yang berarti satu hal: sesuatu yang tidak beres terjadi di tempat tidur anak-anak.

Tanpa sepatah kata pamit pada tuan rumah, Mr. dan Mrs. Darlings serentak mengikuti Nana berlari pulang. Menerobos angin yang siap membekukan tulang. Bergegas-gegas menyusuri jalanan bersalju tipis sambil dalam hati masing-masing bergumam, "Semoga kami tidak terlambat datang!" dan "Semoga anak-anak baik-baik saja!"

Mereka sedikit bernapas lega ketika mendapati jendela anak-anaknya masih tertutup rapat. Kaca jendelanya masih utuh dan tidak ada tanda-tanda di buka paksa. Jadi, ini bukan kasus pencurian ataupun penculikan. Apakah Nana mengumandangkan alarm yang salah? Ataukah dia hanya ingin melaporkan bahwa tiga malaikat kecil mereka belum terlelap di peraduan?

Ya, Wendy, John, dan Michael masih terjaga. Lihat saja jendela kamar mereka dilantai dua. Kamar mereka terang benderang. Seolah matahari sendiri datang berkunjung dan memancarkan cahayanya di sana. Dan dari bayangan-bayangan yang terbentuk di balik jendela, tampak jelas anak-anak sedang berputar-putar di—

Tunggu dulu...

"Apa kau melihat apa yang kulihat, George?" tanya Mrs. Darlings, matanya membeliak. Mungkinkah kini kekhawatiranku memunculkan imajinasi yang bukan-bukan?
"Ya, sayangku, aku melihatnya," jawab Mr. Darlings. "Anak-anak berputar-putar di..." Mr. Darlings memutus kalimatnya sendiri, seakan-akan dia tak percaya akan menyemburkan sebuah kata yang terdengar ajaib dan mustahil.

"Di udara!" sambung Mrs. Darlings.

Tapi itu bukan kejutan utamanya. Kejutan utamanya adalah tidak hanya tiga sosok yang sedang berputar di udara, melainkan empat!

Mata Mrs. Darlings membeliak makin lebar. "Oh, George, siapa yang bersama anak-anak itu?"

"Aku tidak tahu, sayangku. Aku tidak tahu."

Rasa panik, cemas, dan takut membuat tubuh mereka bergetar hebat. Mereka hampir-hampir kesulitan saat membuka pintu pagar rumah mereka. Mr. Darlings bisa saja segera naik ke lantai atas, ke kamar anak-anaknya, dan menangkap basah sosok asing yang sedang bersama mereka. Tapi entah kenapa, entah kenapa, di detik-detik terakhir Mrs. Darlings meminta suaminya untuk bergerak perlahan-lahan saja.

Kenapa? tanya suaminya melalui ekspresi yang ditimbulkan alisnya.

Aku tidak tahu, jawab si istri jujur, juga lewat ekspresi wajah.

Apakah itu buntut dari perintah Mrs. Darlings pada dirinya sendiri untuk menenangkan diri, untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang? Atau... jauh di lubuk hatinya dia sudah tahu bahwa mereka akan terlambat, bahwa sosok keempat itu akan membawa pergi oknum-oknum kecil yang sangat dicintainya? Sejujurnya dia tidak tahu. Dan selamanya mungkin dia tak akan pernah tahu. Terkadang seseorang memang begitu, melakukan sesuatu tiba-tiba tanpa tahu alasan dibalik pelaksanaannya. Satu-satunya yang dia tahu, dia berharap semoga tanda tanya terakhir tidak mewujud menjadi nyata.

Semoga orang asing itu bukan orang jahat, do'a Mrs. Darlings.

Namun,seperti yang Mrs. Darlings takutkan, mereka bertiga hanya mendapati kamar yang sudah berubah gelap. Burung-burung (anak-anak dan penculiknya) telah pergi. Sinar yang tadi menerangi ruangan itu pun ikut pergi. Yang tertinggal hanya kamar kosong dengan tempat tidur tak berpenghuni. Yang tertinggal hanya jendela yang terbuka,yang mempertontonkan hamparan langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.

Semenjak saat itu, tak pernah lagi terdengar celoteh anak-anak dari rumah keluarga Darlings. Semenjak saat itu, Nana tidak lagi diikat di halaman belakang rumah. Semenjak saat itu, jendela kamar anak-anak tak pernah ditutup lagi.

Oh ya, Mrs. Darlings akan terus membukanya. Dia tak berminat menutupnya bahkan bila ada badai sekalipun. Dia akan terus dan terus dan terus akan membukanya, hingga ketiga buah hatinya, Wendy, John, dan Michael kembali ke pelukannya.

========================
P.S.
[1] Kisah ini terinspirasi dari novel klasik Peter Pan karya James Matthew Barrie.

[2] Kisah ini dibuat dalam rangka mengikuti PNFI's July Event.

[3] Kisah ini menggunakan setting waktu yang sama dengan novelnya.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^