Sabtu, Januari 17, 2015

Posting Pertama di 2015

Belum terlambat untukku menuliskan resolusiku untuk tahun 2015, kan?

Ah, tapi kalau terlambat pun aku juga bakal tetap menuliskannya. Siapa juga yang bisa melarangnya? Apa, patjar? Ahahah, belum punya, sob, mungkin tahun ini *bukan resolusi, tapi boleh deh disebut harapan*

Tapi sebelum masuk ke daftar, izinkan aku untuk mengucapkan selamat (yang terlambat) pada 2015 atas dirinya yang kini memegang tampuk kekuasaan selama kurang lebih 1 tahun ke depan. Semoga dia memerintah dengan bijaksana, dan semoga kami bisa jadi kawan baik :3


Dan tentu saja, mendorongku untuk berbuat lebih baik dari tahun yang kini bersemayam di tempatnya yang tenang.

1. Belajar masak
Kalau masak makanan instan boleh dihitung, mungkin aku sudah bisa dibilang jago masak.

Masak air bisa dihitung, cuman karena saking mudahnya (tapi denger-denger ada juga yang masak air sampai gosong), jadi ya nggak dimasukin (?)

Goreng-goreng nyaris apapun, semisal tempe, tahu, ikan pindang, telur, adalah hal yang masuk dalam label easy-peasy. Dan rasa-rasanya yang ini bolehlah dimasukin dalam daftar makanan yang bisa aku masak, hahah.

Dulu, aku pernah nyoba bikin sup. Kelihatannya cukup bagus, atau kalau diibaratkan sampul buku, sampulnya cukup okelah, tapi rasanya... Err... Meski begitu, katanya ada yang menghabiskannya (karena terpaksa dan tak ada makanan lain sih)

Intinya, tahun ini aku mesti sudah naik ke tingkat pertengahan (?) dalam hal masak-memasak.

2. Berusaha sebaik mungkin berpikiran positif
Hal paling susah untuk direalisasikan, tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Bila dulu merasa dunia itu bukan tempat yang layak ditinggali, maka sekarang mesti memandangnya dengan kacamata yang berbeda (bukan kacamata secara harfiah, dan aku juga bukan pengguna kacamata).

Semisal bila tersandung batu, aku tidak dianjurkan mengkambinghitamkan si batu, tidak dianjurkan memarahinya maupun mengumpatnya, aku harus memandang kejadian itu dengan pikiran positif. Siapa yang tahu kan dengan aku jatuh itu ada seseorang (yang mungkin jodohku) mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri? (Ini ngomong soal kaki, ya, bukan yang lain).

Atau contoh yang lain, Sherina sedang sakit keras, dan tampaknya kali ini dia hendak beristirahat untuk selama-selamanya. Sebagai seorang yang berpikiran positif, sakitnya Sherina ini mungkin karena aku sebentar lagi mendapatkan penggantinya yang lebih canggih dan memiliki fitur yang banyak yang akan aku butuhkan di kemudian hari. Seperti Oppo R5 misalnya.

3. Fokus pada apa yang diimpikan seperti Rachel Berry
Rachel Berry adalah karakter fiksi di serial TV Glee. Meski semua temannya menganggapnya mengerikan dengan ambisinya yang kelewat besar, aku sangat kagum padanya. Dia fokus dalam mengejar mimpi. Dia sangat bersemangat dalam mengejar mimpinya. Dia bangun pagi-pagi untuk berolahraga, agar pernapasannya lebih panjang ketika menyanyi. Dia mengambil kesempatan sekecil apapun untuk membuat langkahnya semakin dekat dengan mimpinya.

Tahun ini, aku bertekad akan mencontohnya. Aku akan lebih fokus dalam menggapai mimpiku. Fokus merawat dan membesarkan toko buku onlineku, STORY EATER CORNER. Fokus dalam mewujudkan Kroket. Fokus dalam menjalankan bisnis keluarga. Dan tentu saja, fokus untuk membukukan naskah-naskah novelku. Terutama, untuk tahun ini, UAN dan CJDIA.

4. Dapat menaklukkan tantangan membaca tahun ini yang kuikuti
Aku harap tidak ada tantangan membaca yang gagal kutaklukkan, seperti tahun lalu, aku gagal menaklukkan satu tantangan membaca. Tapi tak apa. Aku yakin ada hikmah di balik kegagalan itu (berpikiran positif), walau hingga kini aku tidak tahu atau belum menemukan hikmahnya apa (terus berpikir positif!)

5. Jauh-jauh dari bantal (kecuali emang berniat tidur)
Kebiasaan burukku (atau mungkin bukan?) adalah begitu kepalaku tersentuh bantal atau sesuatu yang empuk-empuk (?) pasti beberapa menit kemudian aku jatuh tertidur. Bahkan ada beerapa orang yang mengatakan, "Seandainya ada lomba cepet-cepetan tidur, aku yakin Jun yang bakal keluar jadi pemenangnya!"

Aku sendiri tak tahu mengapa kenapa aku bisa begitu. Kenapa fisikku bisa begitu gampang terlenanya hingga membuatku mudah menyeberang ke alam mimpi. Entah mungkin karena aku ingin meninggalkan ingar-bingar dunia sejenak (sambil berharap begitu membuka mata kembali kondisi Bumi jauh lebih ramah dari saat ini), atau entah mungkin karena aku rendah hati berdarah rendah.

Pokoknya, ketika aku sedang menulis, terutama naskah, aku akan jauh-jauh dari bantal!

6. Lebih hati-hati dalam memperlakukan uang
Salah satu kebiasaan burukku yang lain (atau mungkin juga bukan kebiasaan buruk) adalah menaruh uang di banyak tempat. Ada di lemari baju, ada di tas yang tersampir di cantolan yang melekat di dinding, ada di dalam beberapa buku. Lalu, terkadang, aku melupakannya. Jadi, di waktu-waktu tertentu saat aku membutuhkan dana... Kalian bisa menebaknya.

Dan ketika "menemukannya" kembali rasanya bak dapat durian runtuh.

Resolusi ini juga berlaku untuk kegiatan belanja. Terutama belanja buku. Dan buat kantong untuk menampung dana khusus untuk coba-coba buku buatan penulis "baru" (maksudnya, baru untukku, misal aku belum pernah baca buku karangan Dean Koontz, maka Dean Koontz ini masih baru bagiku).

7. Lebih asertif atau berani mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran
Tapi khusus untuk seseorang yang khusus, seseorang yang dapat membuat jantungku berdetak lebih kencang, resolusi ini tidak berlaku.

Dan tentu saja, sebelum mengutarakan apa yang melintas di hati dan pikiran, selalu pastikan apakah kondisi dan situasi sedang tepat.

8. Lulus kuliah
Lulus kuliah adalah impian semua mahasiswa. Tak terkecuali diriku yang imut dan menggemaskan ini. Yang telah melebihi empat tahun mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, dan sudah kenyang dengan pertanyaan, "Kapan wisuda?" Tahun ini, aku harus punya jawaban tanggal pasti wisuda.

Berkenaan dengan langkahku mewujudkan resolusi ini, hari Senin nanti (dua hari dari hari resolusi ini diposting) aku bakal mempresentasikan tugas akhirku. Atau dengan kata lain, seminar. Mohon doanya agar seminarnya lancar ya!

9. Menjadi pribadi yang lebih terbuka
Meski memiliki pemikiran yang terbuka, aku bukanlah orang yang terbuka (?) Coba tanyakan berapa ukuran celana dalamku, aku pasti akan diam dua ribu bahasa.

Ya nggak celana dalam juga kali nanyanya -_-"

Atau coba tanyakan kenapa aku suka banget tempe (sekarang kalian tahu aku suka banget dengan makanan yang terbuat dari kedelai ini), maka jawabanku akan bak iklan, karena rasa tak pernah bohong.

Kok jadi makin OOT, yak?

Singkatnya, aku akan berusaha membuka diri. Bukan hal yang mudah, memang. Apalagi bagi mereka yang terbiasa menutup diri. Tapi, sekali lagi, bukan hal yang mustahil. Siapa tahu dengan aku membuka diri ada orang cakep dari New Zealand yang lewat (karena cewek dari Hongkong sudah diajak jalan-jalan sama dua cowok yang makan Pop***)

10. Berhenti mencemaskan banyak hal terlalu berlebihan
Ini salah satu kekuranganku juga (kurang terbuka apalagi coba?) Tapi meski cemas akan banyak hal, wajah dan bahasa tubuh dijamin tidak menunjukkannya dengan jelas kekhawatiran itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengenali tanda-tandanya.

11. Percaya pada diri sendiri
Tapi ke-10 resolusi di atas tidak akan pernah terwujud bila aku tidak percaya pada diriku sendiri. Bila berpikiran positif saja susahnya minta ampun, maka percaya pada kemampuan diri susahnya dua kali lipatnya. Dan bagaimana aku mewujudkan ke-10 resolusi itu bila aku tak percaya diriku bisa mewujudkannya?

Dan... itulah resolusiku di 2015 ini. Aku tidak akan tanya resolusi kalian, sebab aku sudah mengetahuinya. Mau menjadi lebih baik dari tahun kemarin, kan? :3

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^