Rabu, Januari 21, 2015

[review] Cowok Rasa Apel 2: Kembali ke Sekolah

Catatan:
[1] Karena kisah ini belum jadi buku, maka reviewnya tidak ditaruh di blog khusus buku
[2] Review Cowok Rasa Apel (prekuel cerita ini dan yang telah jadi buku) bisa dibatja di sini

Sinopsis:
Rahasia Dimas terkuak! Sebentar lagi semua orang bakal tahu bahwa dirinya... Guy who likes guy!

Rahasia itu terbongkar saat dia dan teman-temannya study tour ke Bali. Erik, his crush, yang gerah dengan gunjingan teman-temannya (kalau dirinya ditaksir cowok, kalau dirinya sama seperti Dimas) akhirnya memutuskan untuk membuat situasi dimana semua orang tahu bahwa Dimas itu gay, dan dia tidak.

Berita itu tersebar dengan cepat. Semua murid yang ikut study tour tahu soal... Keunikannya. Beberapa murid terang-terangan mengejeknya. Beberapa yang lain menyuruhnya jauh-jauh secara halus.

Untung setelah study tour itu sekolah libur. Jadinya Dimas bisa mengistirahatkan sejenak hatinya dari segala macam cacian dan hinaan dan penolakan. Tapi yang namanya libur, tentu tidak akan terjadi selamanya. Akan tiba masa dimana proses belajar-mengajar kembali aktif di sekolah. Dan ketika saat itu tiba, siapkah Dimas dengan apa yang menunggu di depannya?

Review:
Kalian pasti heran kenapa Dimas tidak pindah sekolah saja ketimbang masuk ke sekolah dimana ada banyak kemungkinan omongan tak sedap yang bakal numbuhin gondok dan bikin hati bengkak. Bagi yang belum batja prekuelnya, alasannya sederhana saja: Dimas tak mau orangtuanya tahu.

Dengan dia mengutarakan keinginannya untuk pindah, otomatis orangtuanya akan menanyakan alasannya. Kalaupun Dimas memilih bungkam, orangtuanya akan mendapat alasan kepindahan dari para guru.

Saat membatja Cowok Rasa Apel yang pertama, cukup mengejutkan aku menyukainya. Ceritanya jauh dari ekspektasiku yang menyangka hanya akan mendapatkan kisah romansa anak SMA. Tapi ternyata lebih dari itu. Meski banjir tanda batjanya amat sangat mengganggu proses pembatjaan.

Banjir yang terjadi juga di sekuelnya ini.

Cowok Rasa Apel 2 sering digadang-gadang lebih baik dari CRA 1 oleh beberapa pembatjanya. Menurut mereka, CRA 2 lebih seru dan lebih kompleks. Bagiku... Masih seru yang pertama, dan sama sekali tidak kompleks untuk ukuranku.

Sebagai penggemar berat komedi, aku agak kecewa dengan humor di CRA 2. Sebagian besar kelutjuan di cerita serial online ini kurang alami. Humor itu kayak sudah terencana. Kadang memang ada yang ngena, bikin aku tertawa, tapi sebagian besar (terutama yang di bab-bab sebelum bab 20) datar-datar saja. Dan beberapa jatuhnya jadi filler.

Karena itulah, beberapa bagian, aku batjanya sambil melompati bagian yang aku rasa tidak akan berpengaruh pada konflik utama cerita,

Aku tidak anti-typo. Jadi mau nemu sebanyak apapun typo, aku tidak akan terganggu. Tapi tidak dengan tanda batja. Tanda batja yang salah sangat menggangguku. Contoh "lutju" untuk menunjukkan bahwa kesalahan tanda batja adalah koma yang sering dijadikan meme dengan adegan penjambretan. Coba perhatikan dua kalimat di bawah:

A) Tolong penjambret!
B) Tolong, penjambret!

Aku yakin kalian akan memilih B sebagai jawaban yang benar. Sebab kalimat A, tentu saja, adalah permintaan untuk menolong si penjambret.

CRA 2 ini tidak ada masalah dengan koma (penjelasan koma di atas itu untuk menunjukkan bahwa tanda batja merupakan hal vital), tapi dengan tanda elipsis (...) dan seru (!) Perhatikan kalimat di bawah:

"Nggak...! Enak aja...!"

Gimana kira-kira melafalkannya? Memanjang ketika sampai di elipsis dan menghentak di akhir, seperti ini: "NgaaaaaAAK. Enak ajaaaaAAK." ? Bukan pelafalan... Pada umumnya, kan?

Pada akhirnya, demi agar bisa terus membatja, aku kemudian berpura-pura tidak ada banjir dua tanda batja di atas.

Selain tanda batja, aku juga sampai repot mencaritahu arti kata cibir yang juga sering digunakan penulis.

Kata cibir ini mulai menarik perhatianku di kala adegan UKS. Dalam adegan itu Misha, cewek teman sebangku Dimas (yeay, akhirnya ada tokoh cewek juga! Yah, walaupun perannya dikit doang), menggerak-gerakkan tangan seolah mengipasi Dimas sambil mengucapkan kata-kata yang diikuti penjelasan bahwa kalimat itu adalah cibiran.

Saat itu, dalam pemahamanku, cibiran itu berarti mengejek. Sementara apa yang dilakukan Misha itu lebih ke arah menggoda dengan maksud jahil. Dan kata cibir yang bermakna menggoda itu tidak hanya dalam adegan itu. Ada cukup banyak. Dan karena jumlahnya itu, aku ragu dengan pemahamanku akan kata cibir. Mungkin saja cibir artinya bukan ejekan.

Jadi, aku pun membuka KBBI online. Dan menurut KBBI online, cibir berarti...

ci·bir v, men·ci·bir v menganjurkan bibir bawah ke depan untuk menyatakan tidak senang (mengejek, mencemoohkan): mendengar perkataan itu ia ~; men·ci·bir·kan v 1 menganjurkan bibir bawah ke depan; mencebikkan; 2 ki mencemooh; mengejekkan; menistakan: jangan suka ~ orang melarat 

Berarti aku tidak salah.

Yang mengganggu lainnya adalah di awal-awal cerita, karakter-karakter yang muncul hampir semuanya punya sifat yang mirip-mirip: cerewet, suka melutju, suka gondok, tingkah-polahnya berlebihan. Tapi untunglah, semakin ke belakang, semakin bisa dikenali sifat masing-masing. "Pemaksaan" sifat cuek pada Denis juga kurang ngena bagiku. Maksud dari kata yang diapit tanda petik itu, sifat karakternya dikenalkan oleh penulis: Denis itu cuek, bukan dari pengalaman membatja para pembatjaatau setidaknya pengalamanku. Dan lewat adegan demi adegan, sifat Denis tidak seperti yang dikatakan oleh tokoh lain. Bagiku, jauh lebih cuek Dimas dibanding saudara kembarnya itu. Dan Denis juga heboh begitu di depan orang-orang yang dikenalnya.Yang benar-benar terasa cueknya itu, bagiku, Erik. Dia kalem saja "masa lalu"-nya dengan Dimas kadang diungkit-ungkit.

Omong-omong soal berlebihan, reaksi tokoh-tokoh, baik utama maupun figuran dan tempelan, terasa agak berlebihan dengan status kembar Dimas dan Denis. Seakan-akan mereka keajaiban dunia. Seakan-akan tak ada anak kembar lain di sekolah itu. Seakan-akan tak banyak dari mereka yang melihat anak kembar sebelumnya.

Kok rasanya daritadi kekurangan mulu yang dibahas? :))

Oke, sekarang saatnya ke hal-hal yang oke punya.

Bila banjir tanda batjanya tidak diacuhkan, maka kita akan menemukan gaya bahasa dan penceritaan yang oke punya. Sederhana, tapi ada emosi di sana, dan tentu mudah diikuti. Mudah dipahami, tidak sepretensius tema yang dibawanya. Beberapa humornya sangat oke, sempat ada juga yang bikin aku terpingkal-pingkal. Bagian terbaik, tentu saja, di bagian diskusi tertutup redaksi majalah sekolah beserta OSIS dan beberapa organisasi sekolah lainnya. Rapat ini ada karena ada artikel kontroversial yang muncul di mading.

Bagian itu cukup panjang, tapi nggak bikin aku ngantuk seperti saat Dimas "debat sopir kusir" dengan Aldo (cowok gay lain di sekolahnya yang berpikiran realistis). Membahas "keunikan", toleransi, dan manusia. Tidak ada yang baru dalam percakapan mereka, hanya pengulangan percakapan yang menjadi perdebatan di seluruh penjuru dunia.

Bagian terbaik kedua saat Dimas berdebat dengan guru BP. Bukan karena bagian isu kepadatan penduduk dan KB mengingatkan akan naskahku sendiri, tapi karena... Nah, ini dia, Dimas yang akhirnya beraksi like a victim no more.

Terbaik ketiga saat Dimas dipukuli.

Bagian dipukuli sudah aku tunggu-tunggu sejak aku berniat membatja Cowok Rasa Apel 2 ini. Kurang lebih seperti yang aku harapkan. Kecuali interupsi Fandy yang cheesy abis.

Dalam adegan pemukulan Dimas itu, Fandy ada di lokasi kejadian sebab ada semacam pertengkaran antara mereka berdua. Fandy meminta Dimas menjauh sebab dia tak ingin "aib" Dimas membuatnya terkena getahnya. Saat Dimas dipukuli, Fandy ikut dipukuli juga. Alasan Fandy ikut kena bogem menjadi spekulasi sebab dia memilih bungkam (dan ini bagus). Tapi kemudian, di adegan lain, dijelaskan bagimana si Fandy mendapatkan luka-lukanya. Sayang sekali alasannya itu, coba alasannya karena dia teman Dimas. Bagiku, alasan itu akan membuatnya jauh lebih bagus daripada alasan yang keju banget.

Di kisah ini, beberapa nama pesohor (terutama penulis) disebut. Ada J.M. Barrie (penulis kisah klasik Peter Pan), Oscar Wilde (penulis kisah klasik The Picture of Dorian Gray). Disebutnya tokoh-tokoh itu karena mereka adalah tokoh gay yang terkemuka dan sukses. Tapi bagiku itu agak kurang. Mereka memang terkenal, tapi sekaligus kurang terkenal. Tahu sendiri, kan, dunia literasi di Indonesia belum terlalu menonjol. Malah aku cukup heran nama besar seperti Leonardo DaVinci (meski masih spekulasi--sama seperti kedua tokoh penulis di atas, tapi tetap saja impactnya jauh lebih besar) dan Alan Turing tidak masuk. Atau juga memasukkan nama-nama artis besar Holliwut atau bintang olahraga yang openly-gay. Tapi, ada kemungkinan nama itu ada, cuman belum kebatja sama Dimas.

Secara keseluruhan, Cowok Rasa Apel 2 nyaris lumayan. Di awal-awal, aku sempat tersendat akibat para tokohnya yang pada cerewet (yang kemudian muncul satu pertanyaan, "Mereka benaran sudah SMA?"), pengen "unjuk gigi" siapa diantara mereka yang cukup oke ngomong dan ngebanyolnya, dan tentu saja, tanda banjir elipsis dan seru. Tapi setelah mencapai bab 20, proses membatjaku jadi lantjar, tak tersendat lagi. Dan tidak seperti CRA 1, aku kurang bisa menikmati komedi di CRA 2 ini. Tapi ini mungkin kembali ke selera masing-masing.

Dalam sekuel ini, salah satu tema yang diangkat sedikit lebih berat dari prekuelnya. Tapi justru di situlah letak hal terbaik dari kisah serial online ini.

Cowok Rasa Apel 2: Kembali ke Sekolah
Penulis: Noel Solitude
Jenis cerita: Self-online publishing (cerita bisa dibaca di sini)
Panjang kisah: 39 bab
Genre: Realistic Fiction - Romance - Teen Literature - LGBT
Score: 2 of 5 stars
Target: Young-Adult (16 tahun ke atas!)
Share:

4 komentar:

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^