Rabu, Februari 11, 2015

Kirim nggak, ya?

Belakangan ini, kotak masuk pesan singkat di ponselku dibombardir pesan singkat "nyasar" oleh "nomor iseng" yang membuatku berdebar-debar tak karuan. Aku tidak heran hal itu terjadi, secara nomor ponselku memang tidak pernah dirahasiakan. Di profil facebook-ku, nomor itu terpampang nyata. Di Kaskus, di thread ini (dimana kalian bisa menemukan buku baru dan bekas murah), nomorku juga terpasang cantik. Di blogku yang lain, di salah satu halamannya, yakni di sini, juga bak pesawat yang landing di Halim Perdana Kusuma (?)


Debaran itu terbagi dalam dua rasa. Yang pertama, debaran karena terkejut.


Ketika menerima pesan singkat di atas, jujur, aku lupa dengan transaksi yang kulakukan. Siapa ya ini, pak Rudi? Tapi aku ingat aku sudah transfer. Aku ulang-ulang nama Rudi ini... Rudi... Rudi... Kemudian, aku teringat: Oh ya ampuuun... kemarin kan aku pesan kapur ajaib pada Rudi Tabuti! Ya sudah, aku pun memberikan solusi pada asisten Pak Rudi ini untuk mengembalikan dana yang sudah terlanjur aku transfer. Tapi di detik-detik terakhir aku hendak menekan tombol kirim, tiba-tiba sebuah pikiran terbersit di kepalaku. Sebuah pikiran yang kubahas nanti.

Debaran yang kedua, karena gembira ria!


Bila aku seseorang yang mudah mengekspresikan diri dan kurang teliti, mungkin aku sudah lonjak-lonjak ketika sms itu menyemarakkan kotak masukku, didorong virus kebahagiaan menyerangku dan memproduksi hormon endorphine yang membuatku hanya merasa senang, senang, dan senang. Tapi lagi-lagi sebuah yang sama menyelinap di detik-detik terakhir aku hendak menonjok tombol kirim.

Pikiran itu membuatku sempat dihinggapi dilema, Kirim nggak, ya? Maksudku gini. Seingatku, Rudi Tabuti tidak pernah pakai asisten atau meminta orang lain menggantikannya dalam transaksi kapur ajaib yang dapat membawa kita ke Chalkzone. Atau kalaupun dia melakukannya, dia akan mengirim sahabat baiknya, Peni atau atau Snap. Nomor yang mengirim bukan nomor Rudi dan Peni, jadi wajar dong bila aku curiga?

Namun, pikiran kedua muncul: Gimana bila Rudi kewalahan menangani bisnis jual beli kapurnya ini, dan karena alasan itu dia kemudian menyewa atau mempekerjakan seorang atau dua asisten?

Lalu, di sms kedua. Pikiran yang bikin aku terkena "lagu hitz pertama Cherrybelle" adalah aku ragu. Maksudku, hei, zaman sekarang gituloh, masa orang bakal ngasih gitu aja apa yang kita minta tanpa syarat dan ketentuan berlaku? Dan dia, pengirim pesan singkat ini bilang, rahasia dijamin. Bohong banget sumpah! Yang aku inginkan adalah mesin waktu, apa dia yakin bisa merahasiakannya? Kepemilikan mesin waktu itu harus didaftarkan pada negara. Jadi, mana mungkin mereka bisa menjamin bahwa aku bisa menyimpan mesin waktu secara diam-diam tanpa melibatkan aparat negara yang kesemsem pengen menempelkan tangannya di tubuhku yang legit ini? Dan kalaupun bisa, berarti aku menyimpan mesin waktu ilegal dong?

Tapi, yang namanya manusia, kadang mereka begitu sangat penasaran dan begitu dibutakan oleh janji-janji manis yang menjadikan kebahagiaan sebagai iming-iming, alhasil aku pun mengirimkan sms yang sudah aku ketik itu dan duduk manis menunggu kabar baik datang.

Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tiga puluh menit.
Satu jam!
Dua jam lebih sebelas menit!

Sebuah pikiran baru mulai terbentuk. Dan pikiran tersebut berbunyi, "Mereka mungkin sedang sibuk. Aku harap si asisten Rudi Tabuti tidak lupa menyampaikan usulanku, dan aku harap orang yang mau memberiku segala yang butuhkan tidak menganggap permintaanku akan mesin waktu tidak kebanyakan."

Share:

2 komentar:

  1. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serius? Jangan lupa mampir lagi ya, sob ^^)

      Hapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^