Sabtu, Februari 21, 2015

Mimpi di Pagi Berlubang

Tadi pagi, atau beberapa menit yang lalu (aku buru-buru menulisnya mumpung aku masih ingat), aku bermimpi. Mimpi soal aku pindah ke sekolah asrama.

Ya, di mimpi ini aku jauh lebih muda, sekitaran kelas 1 atau 2 SMA, dan hendak dipindahkan ke sekolah asrama.


Tak ada penjelasan mengenai kenapa aku mesti pindah ke sekolah itu, aku tidak tahu. Atau bisa juga itu bukan pindah, tapi mendaftar sebagai murid baru. Tapi aku lebih yakin ke pindah, sebab tak ada MOS yang mesti kujalani—walau ada hal semacam itu juga, walau apa yang aku lakukan beberapa hari di dalam mimpi merupakan tujuan dari MOS yang sebenarnya (yang tampaknya dilupakan oleh banyak orang).

Ada banyak detail yang sudah kulupa, tapi aku ingat dengan sepasang suami istri (aku tidak tahu, tapi mereka ada di asrama atau gedung sekolah itu) yang karena sekolah itu luas dan bak labirin, memberitahuku jalan yang benar untuk menuju... Ke tujuan yang kucari. Saat ini terjadi, aku juga ingat terjadinya malam hari.

Samar-samar aku juga ingat dengan si istri. Aku pernah berkunjung ke rumah mereka dan meminta air minum padanya ketika sedang mengantarkan adikku ke sekolah.

Lalu, malam pun berlalu. Hari baru dimulai dan asrama yang semula kosong menjadi ramai. Saat hari pertama ramai ini, aku ketemu, dan satu kamar asrama, dengan Raafi dan kak Wahyu 'Way' N. dari grup PNFI. Dan entah kenapa kami semua sudah kenal satu sama lain. Darimana kami bisa kenal, aku sendiri tak tahu. Yang jelas fakta bahwa kami saling kenal ada di sudut pikiranku.

Wajah kak Way tidak terlihat jelas, ada semacam kabut putih yang menyelebungi mukanya, tapi entah bagaimana, aku tahu itu dia dan dia seumuran denganku. Dia sempat bersikap baik dengan mencegah teman-temannya yang hendak "memlonco" aku si calon anak baru.

Peran Raafi cukup banyak. Dia bisa dikatakan orang yang mengajakku berkeliling sekolah asrama dan orang pertama yang paling banyak mengajakku ngobrol. Aku sudah lupa dengan obrolan kami. Kami berpisah ketika dia gemas melihat teman-temannya bermain sepak bola dengan mengenaskan. Dia pun melepas bajunya, berganti pakaian olahraga, dan ikut bermain dengan mereka. Aku melanjutkan perjalanan keliling asrama sendirian. Gedung yang tampaknya seluas Hogwarts hanya saja gedung itu tampaknya tak memiliki lantai dua.

Dalam perjalanan berkeliling ini, aku sempat bertemu dengan kepala BAAK kampusku dan pembimbing kedua skripsiku. Tidak bertemu secara langsung. Aku hanya melihat mereka dari jarak yang tak terlalu jauh. Kepala BAAK sedang mengerjakan sesuatu dengan serius, punggungnya menghadap ke pintu. Sementara pembimbing skripsiku, dia sedang mengajar pelajaran komputer pada siswa (yang aku duga) kelas satu.

Aku tak menyapa mereka. Tentu saja karena melihat mereka sibuk sangat tidak sopan melakukannya. Dan, hei, aku calon murid baru di sana.

Namun sejujurnya, sejak datang ke sekolah asrama itu, aku dihinggapi kebimbangan. Apakah saran orang tuaku untuk bersekolah di sekolah bersistem asrama sudah benar?

Aku sempat mendiskusikan hal itu dengan Raafi dan kak Way ketika kami pertama bertemu. Aku agak lupa dengan apa yang kami kebanyakan obrolkan, tapi ada satu yang aku ingat jelas.

Raafi, "Kenapa dirimu merasa tidak cocok dengan sekolah asrama?"

Aku, "Because I want freedom. I'm affraid, if I'm stuck here, my free will will be lock in anywhere unreachable."

Maksudku, di sekolah asrama aku tidak bisa melakukan apa saja dan kapan saja aku suka. Aku harus mengikuti jadwal dan acara yang mereka tetapkan. Dan harus mematuhinya. Dan itu berlangsung selama 16 jam (sisa 8 jam digunakan untuk tidur). Dan aku terkejut aku menjawab Raafi dalam bahasa Inggris. Dan aku tahu, ketakutanku membuatku bicara agak terlalu berlebihan.

Aku terus menjelajahi asrama itu. Meski ini agak aneh, aku tahu aku belum merupakan bagian dari sekolah ini. Aku juga tahu bahwa aku bebas mengemasi barang-barangku dan pergi dari sekolah asrama ini. Apa yang aku lakukan ini semacam untuk mengenal tempatku akan menghabiskan beberapa tahun hidupku ke depan. Dan untuk memberi diriku sendiri keyakinan, apakah bersekolah asrama adalah pilihan yang tepat untukku.

Ketika dinding-dinding mulai terasa menghimpit, dan kaki-kakiku berderap menuju pintu keluar, aku bertemu dengan Hadi 'Nirwana' yang hendak keluar dari kamarnya. Kamar yang dihuninya sendiri, bukan seperti Raafi dan kak Way yang berbagi dengan banyak anak. Di dunia nyata, aku dan Hadi berteman cukup baik. Di dunia mimpiku ini, dia adalah sahabat terbaikku yang telah lama hilang kontak.

Hadi menyapaku, "Hello, bro. Gimana kabarmu?"

Kami berbasa-basi sejenak. Baru setelah itu aku tahu dia sudah menghabiskan banyak waktu di sekolah asrama ini. Kini dia berada di tahun terakhir masa pendidikannya (di dunia mimpiku dia memang lebih tua dariku).

Kami mengobrol banyak hal: keluarga, kisah kasih di sekolah, kisah lucu, kesibukan, hobi, nostalgia masa lalu bersama. Mengisi tahun-tahun yang hilang. Kami juga membicarakan kebimbanganku.

Hadi, "Aku suka sekolah di sini. Memang kebebasan kita jadi dibatasi, kita tidak bisa keluar sembarangan, jarang bertemu dengan keluarga, tapi dengan berasrama aku seolah dipersiapkan untuk terjun ke masyarakat sejak dini."

Aku, "Iyakah?"

Hadi, "Dengan berasrama kita mau tidak mau mesti bertemu dengan banyak individu—"

Aku, "Memang di sekolah biasa tidak?"

Hadi, "Bukan itu maksudku, bro. Maksudku, kita mau tidak mau mesti bertemu banyak individu dan karena berinteraksi selama nyaris 24 jam sehari dan tepat 7 hari seminggu, kami jadi mengenal satu sama lain. Lebih baik dalam mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing karena kami menghabiskan banyak waktu di bawah atap yang sama. Dengan kata lain, berasrama itu sama seperti kita tinggal bersama keluarga kita."

Aku manggut-manggut. Tapi kebimbangan itu tampaknya masih menguar jelas karena Hadi menambahkan, "Sekolah asrama mungkin cocok denganku, tapi mungkin tidak cocok denganmu. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sekolah berasrama juga tidak murah. Cenderung mahal karena memberi makan dan fasilitas lainnya bagi para penghuninya. Pikirkan masak-masak sebelum memutuskan. Oke, bro?"

Aku kembali berada di calon kamarku, bersama Raafi dan Kak Way. Aku memberitahukan keputusanku pada mereka.

"Aku tidak akan bersekolah di sini."

Raafi mendukung keputusanku. Kak Way diam saja karena mungkin sudah gayanya.

Raafi, "Kadang tidak baik menyemplungkan diri ke dalam sesuatu yang belum tentu kita suka."

Aku, "Ya. Hidup terlalu singkat untuk digunakan menyesali keputusan yang telah kita buat."

Dan setelah itu aku terbangun dari tidurku.







P.S: Mimpi ini terjadi kemarin, begitu pula tulisan ini ditulis kemarin, tapi baru sempat diposkan hari ini.
Share:

4 komentar:

  1. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Err, dirimu sudah pernah mampir kok, sob. Di tulisanku yang judulnya "Kirim Nggak, ya?"

      Apakah dirimu membatja tulisanku ini?

      Hapus
  2. keren tulisannya..
    mampir ke katamiqhnur.com donk. di jamin kamu nggak bakalan rugi deh!!!
    coba aja kalo nggak percaya!!

    BalasHapus
  3. salam kenal
    katamiqhnur.com

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^