Selasa, Februari 10, 2015

Pemuda Tanggung: Ingin Berteriak

Aaaaaaaaarrrrgggghhhh!!

Pemuda Tanggung ingin berteriak. Sangat kencang. Hingga memecahkan seluruh kaca di sekitarnya. Tapi dia tak bisa melakukannya. Selain tak biasa menggunakan nada tingginya, sejak kecil ada yang salah dengan tenggorokannya: tenggorokannya sering mengalami masalah.


Juga tak mau. Saking jaimnya. Ah, seandainya dia tak dibesarkan oleh orang-orang yang suka jaga image. Atau seandainya dia tak dibesarkan oleh orang-orang yang mempunyai gengsi begitu besar, yang menempatkan rasa malu di tempat tertinggi dari rasa lainnya—bahkan mungkin rasa taat dan/atau cintanya pada tuhan.

Pemuda Tanggung tentu bisa saja memilih untuk tidak seperti orang atau lingkungan sekitarnya. Tapi rasa takut, yang merupakan bagian terbesar dirinya, mencegahnya berbuat seperti itu. Berbeda atau unik mungkin luar biasa di matanya, tapi dengan menjadi seperti itu sama seperti bunuh diri. Menjadi berbeda seringnya membawa petaka.

Jadi akhirnya, dia berteriak dalam hati. Dengan berteriak di dalam hati, tak'kan ada yang bisa mendengarnya. Tak'kan ada yang memandangnya seolah dia gila. Tak'kan ada yang menganggap ada yang salah dengannya. Juga tak'kan ada yang bisa paham apa yang dia inginkan. Terutama keluarganya. Orang-orang yang menurutnya seharusnya menjadi pendukung utamanya.

Pengalaman sudah mengajarinya bahwa percuma menjelaskan apa yang diinginkannya. Karena hasilnya sama saja seperti diam. Jadi dia memilih melakukan yang paling mudah dan paling tidak membuatnya malu: menutup mulutnya.

Diam bukan emas baginya. Bicara bukan berlian untuknya. Diam dan bicara hanya berarti satu untuknya: kata-kata kosong.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^