Rabu, April 15, 2015

The Amulet of Samarkand by Jonathan Stroud

Akibat dihinggapi dendam pada gurunya dan seorang penyihir tenar yang angkuh bernama Simon Lovelace, Nathaniel (seorang penyihir remaja yang masih belajar) diam-diam memanggil Bartimaeus, jin berusia 5000 tahun. Jin kuat yang bahkan gurunya takut untuk memanggilnya. Jin kuat yang diperintahnya untuk mencuri Amulet Samarkand, benda sihir milik Lovelace.


Saat memerintahkan Bartimaeus mencurinya, Nathaniel sama sekali tidak tahu fungsi amulet itu. Yang dia tahu, benda itu benda berharga milik Lovelace, dan dia hanya ingin membalaskan rasa sakit hatinya sekaligus membuktikan diri bahwa dirinya adalah penyihir yang hebat. Lebih hebat dari gurunya!

Tapi pencurian itu justru menyeret Nathaniel, dan juga Bartimaeus, ke dalam intrik-intrik panas dan berbahaya yang bila mereka tidak hati-hati, nyawa mereka menjadi taruhannya.

The Amulet of Samarkand banyak mengejutkanku! Dan untuk mempermudahnya, aku akan menuliskannya dalam beberapa poin:
a) Untuk ukuran buku fantasi (genre yang dikenal serius karena rancang bangun dunianya) buku ini begitu humoris! Aku tidak hanya dibikin tertawa di adegan-adegan tertentu saja, tapi di banyak adegan dari awal sampai akhir! Penyebab kelucuan ini tak lain dan tak bukan adalah Bartimaeus sendiri. Sifatnya yang ceria dan cerdas namun juga sinis dan suka mencibir merupakan daya tarik utama dari novel ini.

b) Nyaris tidak ada tokoh yang benar-benar baik. Bahkan tidak pula Nathaniel dan Bartimaeus. Nathaniel pendendam, sementara Bartimaeus... Yah, bayangkan kalian sebagai dirinya, dipanggil secara paksa ke tempat yang tak disukai, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan menerimanya dengan senang hati?

c) Bartimaeus menggunakan setting semesta alternatif. Saat hendak membacanya, karena di punggung bukunya tercetak kata "Jin" di pikiranku settingnya akan menggunakan setting di Timur Tengah, atau seperti Harry Potter: di zaman modern tapi menyembunyikan diri dari orang biasa, tapi ternyata dugaanku salah. Penyihir di sini tidak menyembunyikan diri, tapi merupakan bagian dari tatanan masyarakat. Jadi, settingnya merupakan zaman sekarang (ada mobil, ada bus, jenis pakaiannya sama seperti masa ini atau sekitar awal 2000-an) tapi dengan sedikit penyesuaian dimana menaruh penyihir di atas tatanan masyarakat.

Ya, bisa dibilang para penyihir adalah kaum bangsawan. Sementara commoner, atau orang biasa tanpa bakat sihir, hanya sedikit sekali yang bisa sampai nyaris sejajar dengan para penyihir. Kenapa aku menyebutnya nyaris? Meski mereka punya kekayaan yang cukup banyak, para commoner tetap dianggap warga kelas dua.

d) Membawa pesan/kritik pada kemanusiaan. Dari poin (c) sudah jelas bahwa Bartimaeus mengangkat sub-tema kesenjangan sosial. Poin ini jelas mengejutkanku. Dengan tokoh Nathaniel yang pendendam, dan Bartimaeus yang sinisnya nggak ketulungan, siapa sangka aku akan menemukan pesan besar seperti ini?

e) Footnote digunakan sangat sering. Oleh Bartimaeus. Dia suka menjelaskan banyak hal, mengomentari banyak hal, dan ingin kita mengerti hingga tampaknya paragraf biasa tidak dapat memuaskannya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Bartimaeus sempat "mengejek" para pembaca! (Hahah) Teknik penulisan dengan menggunakan footnote yang tidak hanya sebagai penjelasan tapi juga komentar dari sang tokoh utama terbilang baru bagiku. Membuatnya sangat unik di mataku. Dan super keren!

Tak ada gading yang retak. Begitu pula dengan The Amulet of Samarkand, yang tentu saja memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan yang pertama, bagi sebagian orang bab-bab awal sedikit susah dicerna. Meski bab-bab awal dibanjiri adegan yang bergerak maju dan penuh aksi, adegan itu juga diselingi penjabaran dunia alternatif yang cukup mendetail sehingga kadang menimbulkan kebosanan.

Saranku, abaikan saja itu untuk sementara. Fokus saja pada aksi Bartimaeus dan masa lalu Nathaniel yang menjadi cikal bakal balas dendamnya.

Yang kedua, plotnya agak terlalu sederhana dan nyaris tanpa kejutan. Sejak kalimat awal, Mr. Stroud seolah ingin mendobrak sesuatu yang sudah dianggap usang. Yang mana disarankan oleh banyak penulis dan guru menulis untuk tidak dilakukan: jangan gunakan awalan yang melibatkan kondisi alam (semisal, matahari, udara, dst), selalu hadirkan twist guna membuat penasaran pembatja, dsb, tidak terlalu dihiraukannya. Awal kalimat melibatkan temperatur udara, banyak adegan nyaris tanpa twist, nyaris semua dugaan pembatja (atau setidaknya dugaanku) mewujud dalam jalinan kata.

Terlepas dari dua "kekurangan" itu, aku sangat menikmati sajian Jonathan Stroud. Bahkan tanpa ragu aku mengganjarnya dengan nilai sempurna. Karakternya oke, plotnya sederhana dan mudah ditebak (tapi karena tak ada hal baru di bawah naungan matahari hal itu tak jadi masalah karena bisa nge-blend dengan baik dengan konfliknya maka) oke juga, pesannya oke, tiap halaman diisi dengan hal-hal penting sehingga nyaris tanpa filler, dan yang terpenting, humornya kece badai!

Tidak heran buku ini masuk dalam daftar New York Times bestseller.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^