Sabtu, Oktober 31, 2015

Orang Ketiga

Pada awalnya, aku lega dan bahagia bisa terlepas darimu. Kalau boleh mendefinisikan bagaimana rasanya, rasanya tidak jauh beda dengan saat kamu menerima cintaku dulu sekali. Malah bisa dibilang aku jauh jauh jauh—satu kata "jauh" tidak akan cukup menggambarkan betapa aku—lebih bahagia.

Pikirku saat itu, akhirnya aku bisa kembali pada teman-temanku. Tampaknya dua abad telah berlalu sejak terakhir kali aku jalan bersama mereka. Pikirku, akhirnya aku bisa lebih lama bercengkerama dengan keluargaku. Semenjak pacaran denganmu, kita berdua tahu, aku jadi jarang berada di rumah. Dikit-dikit kamu telepon minta ditemenin: ke mall-lah, ke bioskop-lah, makan malam-lah, dan seterusnya. Dikit-dikit kamu nangis—kebanyakan karena hal sepele semisal kuku patah—dan minta aku dengar curhatanmu yang sepanjang jalur pantura.
Share: