Selasa, Agustus 02, 2016

Ibuk dan Potret Buku

Kepada Jun di masa depan ...

Saat awal-awal masuk dalam lingkaran (?) #bookstagram, orang paling kita sayang di muka Bumi, Ibuk, adalah salah satu oknum yang merasa hobi baru kita, yakni memotret buku-buku kita nan seksi, adalah salah satu hobi yang buang-buang waktu dan tak ada manfaatnya. Tapi sekarang ...

Mungkin beliau masih merasa itu kegiatan yang masih sama tidak ada manfaatnya, tapi mengingat aku melakukannya setiap hari, dan hal itu sering sekali membuatku--membuat kita--bahagia [kadang bikin frustrasi juga kalau tak dapat memproduksi foto yang sesuai dengan yang diinginkan, hahah], beliau akhirnya memutuskan untuk mendukungku, mendukung kita. Kadang, saat ada makanan atau kue yang oke buat menemani buku-bukuku, beliau menawarkannya padaku sebelum akhirnya disantap. Bahkan nih, beliau menghadiahiku bunga plastik yang bisa kugunakan untuk properti foto!

Oke, seperti yang kamu ingat, Jun, sebenarnya bunga itu belum dibeli, sebab pas datang ke toko tempat biasa aku membeli properti foto, pilihan bunga-bunga plastiknya sedang jelek (yang bagus ada di etelase barang yang tidak dijual!), jadi ya baru besok kami (atau aku, bila Ibuk memutuskan untuk tidak ikut) membelinya.

Terlepas dari hadiah itu, dukungan dari beliau sendiri sesungguhnya sudah merupakan hadiah tersendiri yang layak sekali disyukuri. Dengan mendapat izin dari beliau, rasanya jadi ... katakanlah, bebas. Bebas melakukannya kapan saja dan di mana saja. Tanpa perlu mencuri-curi waktu (meski dalam prakteknya aku mencuri-curi waktu di sela-sela tugas di toko--apakah di masa depan dirimu mendapatkan waktu tetap, Jun?) Tanpa perlu sembunyi-sembunyi dan malu-malu lagi ketika dilihat orang.

Dan ini jauh lebih cepat dibanding ketika beliau akhirnya mendukung, atau lebihnya tidak mengusik lagi, kebutuhanku akan membaca. Hnn, kenapa ya? Apakah karena ketika membaca aku menampakkan banyak sekali emosi dibanding ketika mengabadikan gambar? Ataukah karena beliau sudah menerima fakta bahwa anak laki-laki satu-satunya yang tampan ini tak lagi bisa dicegah bila berkenaan dengan buku?

Apapun itu, selamanya hal itu akan jadi rahasia. Karena aku tidak cukup penasaran untuk mencaritahu.

Yang esok hari masih akan mengabadikan gambar untuk dilihat lagi olehmu wahai masa depanku,
Jun dari masa lalu.
Share:

Minggu, Juli 31, 2016

Beli BBM dengan Jeriken

Kepada Jun di masa depan ...

BBM, atau Blackberry Messenger Bahan Bakar Minyak, telah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski di buku-buku pelajaran sekolah hal ini tidak dicantumkan. Tidak hanya untuk mengisi kendaraan kita tapi juga peralatan lain, salah satunya rumah tangga, yang membutuhkan bahan bakar tersebut.
Share:

Sabtu, Juli 30, 2016

Parkir di Luar Sekolah

Parkir di Luar Sekolah
Kepada Jun di masa depan ...

Sejak pagi dua hari yang lalu, ketika melewati (kemungkinan) tempat penitipan sepeda (aku sedang menuju ke SPBU, omong-omong), aku teringat dengan masa-masa ketika kita masih duduk di bangku di bangku SMP. Apakah dikau masih ingat Jun tentang larangan menitipkan sepeda di luar sekolah?

Yah, aku rasa dirimu masih sama ingatnya denganku. Kenangan (?) semacam itu tak mudah dilupakan. Meski kita tak terlibat langsung, hanya sebagai pengamat.
Share:

Minggu, Juli 24, 2016

The Boss (2016)

Kepada Jun di masa depan ...

Beberapa menit yang lalu, dirimu di masa lalu ini baru saja selesai menonton salah satu film terbaru Melissa McCarthy berjudul The Boss. Kalau bukan karena kagum dengan aksinya di SPY, film pertama di mana aku mengenal nama Melissa--padahal namanya ada di beberapa film yang aku pernah lihat seperti Charlie's Angel dan The Hungover part III, kalau film ini tidak ada Melissa-nya, mungkin aku bakal melewatkan kesempatan untuk melihat film ini. Dikarenakan rating imdb dan rottentomatoes yang cukup rendah.
Share:

Kamis, Juli 21, 2016

Pokemon Go

Kepada Jun di masa depan ...

Di tahun 2016, di bulan Juli ini, ada mobile game yang sedang digandrungi oleh banyak sekali orang. Aku tahu dirimu pasti masih ingat nama game tersebut. Tapi bagaimana pun aku akan tetap menuliskannya. Game itu adalah Pokemon Go.

Tapi aku tidak akan membahas soal game tersebut, Jun. Karena aku yakin dirimu masih mengingat dengan baik game yang jadi trending topic di mana-mana di masa sekarang ini. Aku lebih ingin menuliskan pendapatku mengenai reaksi masyarakat yang agak berlebihan mengenai game yang diadaptasi dari manga atau tv series Jepang.
Share:

Senin, Juli 18, 2016

Hari Pertama Sekolah

Kepada Jun di masa depan ...

Hari ini, Senin, 18 Juli 2016 adalah hari pertama masuk sekolah bagi anak-anak atau remaja usia sekolah di Indonesia setelah libur panjang. Aku sih bukan salah satunya. Jadi ya tidak kelabakan, hahah. Tapi meski begitu, di hari pertama masuk sekolah ini terjadi perbincangan yang lumayan panas di linimassa. Coba tebak apa yang jadi perbincangan lumayan panas tersebut?

Kalau kamu lupa, Jun, apa yang terjadi hari ini, maka seperti seorang masa lalu yang baik pada masa depannya, izinkan aku untuk memberi petunjuk yang siapa tahu bakal bikin dirimu kembali mengingatnya: Perihal antar-mengantar anak ke sekolah.

Dan seandainya kamu lupa dengan pendapatmu di masa lalu, maka inilah dia: "Aku menganggap perkara antar-mengantar itu terlalu dilebih-lebihkan."

Hal itu jadi begitu mungkin karena pemerintah (atau orang di pemerintahan) mewajibkan (tanpa paksaan sebenarnya) para orangtua untuk menyempatkan diri mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Dan yang jadi perdebatan adalah, apakah pengantaran tersebut akan berakibat anak menjadi manja.

Tapi apa iya, dari pengantaran yang cuma sesekali ini akan berdampak besar seperti itu?

Kalau menurut pendapatku sendiri, pendapat kita, pendapatmu dari masa lalu, hal itu mungkin saja bisa bikin seseorang jadi manja. Mungkin. Sekali lagi, mungkin. Karena aku (kita) kenal dengan seseorang yang setiap hari diantar jemput dan dalam batas tertentu dia sangat mandiri. Dia mencuci bajunya sendiri. Dia mencuci piringnya sendiri tiap sehabis makan. Dia mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Dia mengumpulkan uang sakunya sendiri untuk membeli apa yang diinginkan. Dan apakah itu masih bisa disebut manja?

Ya, aku rasa dirimu di masa depan setuju dengan dirimu di masa lalu. Manja adalah satu hal, mengantarkan anak atau adik atau keponakan ke sekolah juga sebuah hal. Tapi apakah dengan hanya mengantarkan seorang anak atau adik atau keponakan di hari pertama sekolahnya akan membuatnya menjadi sosok yang manja selama masa hidupnya?

Dan, aku pun ikut memeriahkan perbincangan panas ini, hahah.

Sejujur-jujurnya, aku heran seheran-herannya kenapa hal ini jadi perbincangan yang cukup hangat suam-suam kuku. Banyak orangtua mengantar anaknya tiap hari ke sekolah dan pada saat dewasa anak tersebut baik-baik saja. Banyak juga orangtua yang membiarkan anaknya berangkat sendiri ke sekolah dan pada saat dewasa anak tersebut menjadi sosok yang manja dan suka mencari perhatian. Dan ini sudah terjadi sejak dahulu kala. Jadi kenapa sekarang diributkan? Apakah karena pemerintah mewajibkannya?

Enggak, Jun, aku enggak marah kepadamu. Aku hanya merasa heran saja, hahah. Oke, aku rasa hal itu cukup. Ada satu hal lagi yang ingin kutulis hari ini. Hal yang bikin kaget.

Yang baru saja kaget,
Jun di masa lalu.
Share:

Sabtu, Juli 16, 2016

Sendiri?

Kepada Jun di masa depan ...

Entah kenapa yang aku tuliskan untuk dibaca olehmu di masa depan adalah hal-hal yang beraroma suram melulu. Rasa-rasanya yang tertuang di blog yang kucoba untuk aku bangkitkan lagi isinya kebanyakan hal-hal bermuatan negatif. Aku sendiri, yang menuliskannya untuk diriku sendiri di masa depan, untuk dibaca lagi sebagai bagian nostalgia atau pengingat agar sebisa mungkin tak mengulangi hal yang sama, merasa heran. Apa tidak ada hal baik yang terjadi di kehidupan? Yang jawabnya, tentu ada. Lalu kenapa hal-hal suram yang kebanyakan mengisi tiap sudut blog ini?
Share:

Jumat, Juli 15, 2016

Kamera Ponsel di Mata Bookstagramer Pemula



Kepada Jun di masa depan ...

Seperti yang kamu ketahui, Jun--itu pun kalau dirimu tidak lupa, beberapa bulan belakangan ini aku sedang ketagihan dengan yang namanya Instagram. Mengabadikan objek, terutama buku-buku kesayangan kita, menjadi bidang dadakan yang ingin sekali aku kuasai. Mendadak fotografi buku (book-photography) yang awalnya berupa kehendak malas-malasan atau tergantung mood merangkak jadi hobi. Dari hobi kemudian menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Dari situ kamera ponsel menjadi sahabat baruku. Mata ketigaku. Sehari saja jemari ini tak menekan tombol shutter atau bidang layar sentuh, rasanya gatal, atau merasa ada yang kurang, bila diri ini tak mengabadikan kecantikan dan kemolekan buku-buku kita dalam sebuah gambar yang nantinya akan diunggah ke Instagram atau sosial media lainnya.
Share:

Selasa, Juli 12, 2016

Lebaran 2016

Kepada Jun di masa depan ...

Lebaran tahun ini jauh lebih sepi ketimbang tahun lalu. Entah karena sebagian orang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga terdekat masing-masing. Entah karena aku yang secara tak sadar memilih menarik diri dari dunia.

Eh, tapi enggak deh. Aku langsung bilang oke ketika tante ngajak buat silaturahim ke rumah sanak saudara.

Jadi bukan karena aku menarik diri. Kemungkinan hal itu disebabkan karena hatiku yang terasa sepi.
Share:

Aarrgghh!!

Kepada Jun di masa depan ...

Mungkin dirimu lupa dengan yang terjadi hari ini. Hari-hari lebaran di tahun 2016 kalender Gregorian. Jadi izinkan aku untuk mengingatkanmu: Kamu (atau kita) sedang dalam kondisi depresi nyaris berat!
Share:

Rabu, April 27, 2016

Pekerjaan

Kepada Jun di masa depan ...

Aku harap kamu sudah punya pekerjaan sekarang. Atau setidaknya, kalau kamu memutuskan untuk melanjutkan cita-citamu menjadi wirausahawan, kamu telah menjadi wirausahawan yang sukses. Tidak sedang luntang-lantung seperti yang aku alami sekarang.
Share:

Selasa, April 05, 2016

Dua Lembar Kertas

Kepada Jun di masa depan ...

Sebenarnya tulisan ini merupakan draft sejak bulan lalu atau dua bulan lalu yang pada awalnya hendak diberi judul "Kita Wisuda Kemarin". Tapi tulisan ini kemudian kita lupakan karena, seperti biasanya, kita diserang ... malas. Tak ada alasan lain.
Share:

Senin, April 04, 2016

Perubahan

Kepada Jun di masa depan ...

Hari Kamis minggu lalu, saat masih bulan Maret, aku mengganti template blog kita ini, Jun. Sebenarnya aku suka dengan tema yang sebelumnya. Tiga kolom dengan tampilan yang nampak minimalis, dan warna oranye. Tapi sayangnya, kesan minimalisnya tidak seelegan yang aku harapkan. Tidak seperti yang kita harapkan, seandainya dirimu masih ingat. Memang, tiap kali seseorang hendak membaca isi keseluruhan post, ia akan kehilangan satu kolom guna memperlebar ruang tulisan. Bukan hal buruk, seperti yang kita berdua tahu. Tapi minimaslisnya jadi mengganggu karena tidak bisa merenggang. Kesannya jadi sempit dan sumpek.

Oh ya, nama template-nya Jax Lite, bikinan New Blogger Theme (bisa Jun lihat di bagian footer blog ini).

Aku tahu, Jun, tulisan ini sangat konyol. Dan tak ada gunanya sama sekali. Ya, kecuali dirimu pengen tahu kapan tema blog ini berganti (aku tak yakin tema ini akan bertahan sangat lama), kendati aku rasa tidak. Aku menulis ini saat ini, karena aku ... galau. Dan tak tahu harus melakukan apa. Menunggu bengong, tentu bukan pilihan. Membaca buku, aku tidak membawa buku. Lagipula bila aku bawa buku dan aku membacanya saat ini, itu artinya aku buang-buang waktu dan uang di warnet untuk hal yang berguna dalam kondisi bukan saat ini.

Aku tidak tahu harus menulis apa lagi. Jadi untuk saat ini, hanya itu dulu.


Share: