Selasa, Juli 12, 2016

Aarrgghh!!

Kepada Jun di masa depan ...

Mungkin dirimu lupa dengan yang terjadi hari ini. Hari-hari lebaran di tahun 2016 kalender Gregorian. Jadi izinkan aku untuk mengingatkanmu: Kamu (atau kita) sedang dalam kondisi depresi nyaris berat!


Kamu di masa lalu itu terus-terusan memikirkan kemungkinan untuk menutup buku kehidupan. Kamu merasa sebagai seorang yang gagal. Tak bisa melakukan apapun dengan benar. Dan hal-hal negatif lainnya.

Ditambah lagi dengan kondisi dunia yang masih tidak ramah untuk hidup.

Dan sekarang kamu di masa lalu ini kehilangan hasrat untuk melanjutkan tulisan ini. Entah saking banyaknya hal yang ingin kutulis, entah karena aku lebih kepengen berkubang di dalam jurang depresi. Dan sudah muak menunggu dunia yang berantakan ini menjadi tempat yang layak huni.

Ini saja aku berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan kata demi kata untuk kutuliskan. Atau kuketikkan lewat touchpad Luke.

Luke, if you forgotten already, the newest and only smartphone I have now.

Nulis apalagi sekarang? Ah ya. Soal judul. Kenapa "Aarrgghh!!"? Mungkin kamu di masa depan bertanya-tanya akan hal itu (dan bisa menebak alasannya). Atau kalau pun tidak bertanya-tanya, aku asumsikan kamu bertanya-tanya--after all, I knew we're always curious about almost everything.

Itu suara teriakan. Seperti yang sudah kamu duga. Dan ya, aku ingin sekali berteriak. Berteriak sangat kencang hingga terdengar di daratan Amerika.

Bukan sekali dua kali I feel like a failure, aku sebagai orang yang gagal. Bahkan meski ibu kita percaya kita bisa melakukan beberapa hal, kebanyakan orang selalu memandang kita dengan sebelah mata. Dan lebih parahnya lagi, meski aku tidak mengakuinya terang-terangan bahkan pada diri sendiri, aku percaya pada mereka.

Pada kata-kata mereka. Bahwa aku ini kurang tampan. Dan itu benar. Bahwa aku ini terlalu lemah untuk melakukan apapun. Itu juga benar. Mengangkat truk saja aku tidak bisa.

Aku sendiri tak tahu darimana munculnya kalimat terakhir itu, yang bikin kita berdua tertawa (atau tidak bila selera humormu di masa depan telah berubah). Mungkin itu dari alam bawah sadar.

Orang-orang menganggap aku pintar hanya dalam pelajaran. Tapi sejujurnya, itu tidak benar. Kamu di masa lalu ini hanyalah seorang pemuda dengan kepandaian rata-rata. Malah dalam beberapa kasus, aku perlu waktu sedikit lebih lama dalam memahami suatu persoalan. Sehingga rasa-rasanya bakal mustahil untuk dapat menjadi ilmuwan atau cendekiawan.

Suaraku biasa-biasa saja. Tidak seindah milik Tanner Patrick. Aku tidak bisa melukis atau pun menggambar. Tidak Belum bisa bermain alat musik satu pun.

Lalu, menulis. Beberapa orang menganggap aku jenius dalam menulis. Tapi aku selalu merasa tulisanku jelek. Belum sebagus penulis-penulis yang bukunya sudah dipublikasikan. Bahkan belum sebagus teman-teman penulis lainnya, padahal aku dan dia sama-sama belum punya buku yang diterbitkan penerbit besar.

Dan lain-lain. Aku rasa kamu sudah dapat melihat poin yang aku tekankan dengan sangat jelas.

Belum lagi aku seorang introvert kelas berat yang nyaris alergi berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal.

Aku tahu bagaimana kamu di masa depan memandang diriku di masa lalumu ini, sebab aku pun juga tahu. Sebuah produk gagal. Seorang pemuda malas yang tak mau berusaha lebih keras. Yang mungkin alergi berusaha.

Itu pun kalau kamu di masa depan sudah berubah lebih baik, Jun. Kalau masih sama sepertiku ... Aku jadi penasaran apa yang membuatmu tetap hidup dan membaca tulisan dari dirimu di masa lalu ini.

Aku menulis ini tidak selesai dalam satu hari. Ada jeda beberapa hari sebelum kalimat kedua paragraf di atas kutuliskan. Pada jeda itu aku merasa sedikit lebih baik. Tapi kini, aku kembali memasuki tahap dimana aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku hanya tidak habis pikir dengan sebagian manusia. Kenapa, kenapa mereka bisa begitu kejamnya pada sesamanya?

Tidak, Jun. Kamu tidak perlu menjawabnya. Tentu saja itu pertanyaan retoris.

Aku tidak mau tulisan ini jadi sangat panjang. Jadi aku akhiri saja di sini dengan satu, tidak, dua pesan. Pertama, jangan ulangi kesalahan kita. Atau kesalahanmu di masa lalu. Kedua, bila kesalahan itu datang nyaris tak terhindarkan, have courage and brace yourself.
 
Jun from the past.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^