Minggu, Juli 31, 2016

Beli BBM dengan Jeriken

Kepada Jun di masa depan ...

BBM, atau Blackberry Messenger Bahan Bakar Minyak, telah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski di buku-buku pelajaran sekolah hal ini tidak dicantumkan. Tidak hanya untuk mengisi kendaraan kita tapi juga peralatan lain, salah satunya rumah tangga, yang membutuhkan bahan bakar tersebut.

Namun herannya, seperti yang kamu ingat, Jun, ada larangan tidak boleh membeli BBM di SPBU dengan jeriken. Larangan yang aneh dan konyol yang tampaknya dibuat dengan hanya melihat satu atau dua sisi saja. Seperti semisal, pelarangan ini dibikin untuk mencegah menjamurnya para penimbun BBM. Atau digunakan untuk hal-hal yang tak berguna seperti semisal, membakar ban di tengah jalan.

Tapi dari sisi lain, hal ini sangat menyusahkan.

Seperti misalnya, bagi petani. Bagaimana seorang petani menghidupkan pembajak sawahnya atau penyedot air tanah untuk irigasi, yang bertenaga diesel, yang berbahan bakar minyak, apakah mereka mesti membawa pembajak sawahnya atau mesin dieselnya, yang beratnya minta ampun itu, ke SPBU demi untuk mengisi tangki bahan bakarnya?

Atau bagi mereka yang tinggal jauh dari SPBU, seperti semisal di luar pulau Jawa. Haruskah menempuh jarak berkilo-kilo meter demi untuk mengisi 1-5 liter di SPBU, sementara setengah isi tangki terkuras untuk perjalanan bolak-balik rumah ke SPBU?

Atau yang sederhana saja, bagaimana bila mobil mogok di jalan. Apakah pemilik mobil harus mendorong mobilnya hingga ke SPBU terdekat?

Memang benar, Jun, dalam prakteknya ada SPBU yang menolak melayani pembeli dengan jeriken, ada yang menerima. Ada pula yang mesti melampirkan keterangan dari RT/RW/Camat tempat pembeli berdomisili, yang pengurusannya kemungkinan besar ribet (tahu dong, Jun, birokrasi Indonesia di masa sekaranh? Eh di masa depan birokrasinya sudah mendingan enggak?) Tapi meskipun sudah ada cara agar tetap bisa membeli dengan jeriken adanya larangan itu, menurutku, tetap terasa konyol. Karena ujung-ujungnya tetap bisa beli, kan? Dan siapa yang bisa menjamin pembeli dengan bersurat dari RT atau pamong (?) setempat tidak berniat menimbun? Dan bagi yang mobilnya mogok di jalan, betapa cara dengan surat seperti itu sangatlah tidak praktis.

Bagaimana dengan di masa depan, Jun? Apakah BBM masih menduduki kursi krusial energi? Atau dirinya sudah digantikan dengan energi terbaharukan dan ramah lingkungan? Dan apakah larangan pembelian dengan jeriken masih ada atau telah dihapuskan?

Dari cucu seorang petani,
Jun dari masa lalu.
Share:

2 komentar:

  1. Diluar Jawa, SPBU malah sering kosong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya sering dengar mengenai hal itu. Kenapa ya sering kosong?

      Hapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^