Selasa, Juli 12, 2016

Lebaran 2016

Kepada Jun di masa depan ...

Lebaran tahun ini jauh lebih sepi ketimbang tahun lalu. Entah karena sebagian orang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga terdekat masing-masing. Entah karena aku yang secara tak sadar memilih menarik diri dari dunia.

Eh, tapi enggak deh. Aku langsung bilang oke ketika tante ngajak buat silaturahim ke rumah sanak saudara.

Jadi bukan karena aku menarik diri. Kemungkinan hal itu disebabkan karena hatiku yang terasa sepi.


Eh, tapi kan pergi keluar belum tentu membuat hati yang sepi terasa ramai?

Ah, tahu ah. Kenapa malah menganalisis hati sendiri.

Lebaran tahun ini kita juga tidakbertemu dengan sepupu oenjoe yang kemunculannya saja bikin hati kita cenat-cenut. Dari pandangan kacamata yang bersih bersinar (?), atau singkatnya pikiran waras, hal ini sebenarnya baik. Kita jadi tidak perlu merasakan rasa sakit hati yang mendalam karena ... masa kamu lupa? Please, jangan minta aku menuliskannya.

What am I kidding, actually? I mean, you are the future of mine. You can recall any memory that I haved but it doesn't work vice versa.

Jadi, mau tak mau, aku harus menuliskannya. Jaga-jaga seandainya kamu melupakannya. Apalagi aku mengenal dirimu, diri kita, yang suka melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Bahwa sepupu oenjoe kita tersebut ... sudah menikah beberapa bulan yang lalu.

Aku harap kamu, aku di masa depan, sudah mempunyai pasangan. Sehingga, yah, rasa sakit hati yang tak seberapa ini, tidak membuka dan berdarah lagi. Oke, kata-kata di akhir kalimat barusan itu agak berlebihan. Maksudku, aku bahkan sudah bisa move on. Atau setidaknya kalau dia tak muncul di hadapanku di saat-saat luka ini belum mengering (?), luka itu akan kering dan tak meninggalkan bekas sama sekali.

Tapi bukan berarti lebaran tahun ini tidak ada kabar baiknya.

Salah satunya baru saja terjadi kemarin. Aku dan Dude berkunjung ke rumah guru SMK kita tercinta, Bu Puspita. Entah kenapa, sekali lagi biar lebih oke lagi dalam menjelaskan maksudku, entah kenapa, tiap ngobrol dengan beliau rasanya wow sekali. Mungkin ini dikarenakan karena beliau benar-benar mendengarkan apa yang aku katakan. Maksudku, kita tidak kekurangan orang yang mau mendengarkan kita. Tapi kebanyakan orang tersebut, seperti yang kamu ingat, biasanya adalah orang-orang jauh yang seringnya hanya berkomunikasi secara online, lewat tulisan, dan tanpa suara serta ekspresi dan bahasa tubuh. Atau bisa juga mungkin karena kita dan beliau berbicara satu tahun sekali sehingga membuat obrolan kita terasa spesial.

Aku rasa kamu mengingatnya, Jun. Hal kayak gini sulit dilupakan. Mungkin obrolan dan topik pembicaraan itu terlupakan. Tapi sensasinya akan terkenang sepanjang masa.

Dan, Jun, apakah bantal bermotif bendera Amerika masih ada hingga sekarang? Masih ingat kan kalau bantal tersebut pemberian dari Bu Puspita?

Kita tidak meminta, seperti yang kamu ingat. Kita hendak membelinya, tapi Bu Puspita bilang kita boleh membawanya pulang. Tidak mempercayai keberuntungan tersebut, aku tentu saja mengonfirmasi sekali lagi, apakah aku tidak salah dengar? Dan, tidak. Aku, dirimu di masa lalu ini, tidak salah dengar. Dan tentu saja, aku langsung dihinggapi dengan perasaan senang dan sontak memeluk bantal dengan harga terjangkau tersebut dengan sayang.

Terdengar berlebihan, mungkin. Tapi bantal itu pun berubah jadi spesial! Dan sepanjang perjalanan pulang, Dude yang duduk di kursi kemudi, aku memeluk bantal itu sambil terbayang adegan ketika Judy memeluk kedua orangtuanya di film Zootopia (aku berencana menuliskan review film keren ini dalam waktu dekat). That pillow deffinitely become the newest member of my fave things! :))

Dan itulah lebaran tahun ini, Jun. Ada hal baik, ada hal buruk. Tak perlu heran, meski dirimu saat ini masih juga terheran-heran, bila kedua hal itu terjadi di hari yang sama.

Sama di lebarannya kamu di masa depan dirimu sudah berada dalam pelukan hangat seseorang,
Jun dari masa lalu.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^