Sabtu, Juli 30, 2016

Parkir di Luar Sekolah

Parkir di Luar Sekolah
Kepada Jun di masa depan ...

Sejak pagi dua hari yang lalu, ketika melewati (kemungkinan) tempat penitipan sepeda (aku sedang menuju ke SPBU, omong-omong), aku teringat dengan masa-masa ketika kita masih duduk di bangku di bangku SMP. Apakah dikau masih ingat Jun tentang larangan menitipkan sepeda di luar sekolah?

Yah, aku rasa dirimu masih sama ingatnya denganku. Kenangan (?) semacam itu tak mudah dilupakan. Meski kita tak terlibat langsung, hanya sebagai pengamat.

(Selain karena kita tak berkeinginan menitipkan sepeda kita di tempat penitipan atau di rumah orang yang kita kenal, saat itu ada kondisi yang hanya memungkinan kita memarkirkan sepeda kita di sekolah.)

Apakah kamu masih ingat, Jun, apa yang kita pikirkan ketika tahu soal larangan itu? Ya, kita merasa hal itu agak konyol, dan dalam beberapa poin kita setidaknya setuju dengan mereka.

Para guru, atau yang berwenang menangani hal itu, berkata bahwa sepeda akan lebih aman dibanding di tempat lain. Hanya poin itu yang kita setuju, setidaknya bila ada kejadian kendaraan hilang, sekolah akan bertanggung jawab. Tapi hal itu berlaku bila kendaraannya hilang seluruhnya. Kalau hilang sebagian, semisal bantalan sadel atau hiasan di terali ban atau bagian tambahan lainnya, sekolah hanya membantu menyelidiki, tidak sampai mengganti rugi. Karena jelas pelakunya adalah warga di dalam lingkungan sekolah.

Yang jadi masalah, seperti yang kamu juga ingat, Jun, pernak-pernik yang digunakan penggunanya untuk membuat sepedanya kelihatan menarik dan nyaman, sering sekali hilang. Bisa dibilang nyaris setiap hari malah. Dan seringnya lagi, pelakunya tak pernah tertangkap. Kita juga kehilangan bantalan sadel, dan tak pernah lagi memasang penggantinya karena takut dicuri lagi. Hal itulah yang, kita rasa, menjadi alasan sebagian orang lebih suka menitipkan sepedanya di luar.

Kembali ke larangan.

Menurut kita saat itu, dan menurutku saat ini, larangan itu sangat membatasi pilihan siswa. Meski pernah kejadian sepeda yang dititipkan dicuri orang, meski ada 'razia' sepeda yang dititipkan di luar, tak ada yang pernah kapok menaruh sepeda di tempat penitipan atau rumah keluarga/kenalan mereka. Sebab hal itu sama saja. Sama-sama punya risiko masing-masing.

Menurut kita saat itu ... aku tidak begitu ingat. Mungkin saat itu kita tak ambil peduli, tapi yang pasti kita bersyukur tak perlu merasa takut kena razia dan hukuman, merasa kasihan pada mereka yang kena razia. Menurutku saat ini, larangan itu adalah tindakan sia-sia yang dilakukan. Menurutku juga kurang mendidik, karena hanya mengarahkan anak-anak ke satu pilihan. Bahwa pilihan A bagus, dan pilihan B jelek. Padahal pilihan A ada bagusnya dan ada jeleknya. Begitu pula dengan pilihan B.

Bagaimana menurutmu, Jun? Apakah di masa depan pendapatku berubah, atau tetap sama seperti sekarang?

Yang merasa tidak ada tempat yang aman di mana pun,
Jun dari masa lalu.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^