Kamis, Juli 21, 2016

Pokemon Go

Kepada Jun di masa depan ...

Di tahun 2016, di bulan Juli ini, ada mobile game yang sedang digandrungi oleh banyak sekali orang. Aku tahu dirimu pasti masih ingat nama game tersebut. Tapi bagaimana pun aku akan tetap menuliskannya. Game itu adalah Pokemon Go.

Tapi aku tidak akan membahas soal game tersebut, Jun. Karena aku yakin dirimu masih mengingat dengan baik game yang jadi trending topic di mana-mana di masa sekarang ini. Aku lebih ingin menuliskan pendapatku mengenai reaksi masyarakat yang agak berlebihan mengenai game yang diadaptasi dari manga atau tv series Jepang.


Yang pertama, game ini dihubungkan dengan salah satu agama di dunia. Agama yang tampaknya paling dibenci di seluruh dunia--bahkan mungkin jauh lebih dibenci dibanding mereka yang tak beragama, apakah di masa depan mereka juga masih membenci agama ini, Jun?

Kata Pokemon diterjemahkan menjadi sebuah pernyataan bahwa seseorang adalah penganut agama tertentu. Dan nama-nama beberapa pokemon disebut-sebut juga sebagai upaya mengenalkan suatu agama dan mendiskreditkan agama yang lain.

Apakah dirimu masih ingat Jun, reaksi pertama kita (atau aku) ketika membaca berita yang ajaib itu pertama kali di grup Whatsapp? Tertawa. Ya, kita tertawa. Merasa "ada-ada saja" dan cukup salut dengan orang-orang yang susah payah menerjemahkan kata-kata tersebut dan membuat paragraf persuasif yang sangat panjang. Sambil bertanya-tanya, mereka generasi berapa ya? Apakah mereka generasi 90-an seperti kita, yang semasa kecil familiar dengan tv series atau anime dari negeri sakura tersebut? Soalnya bila benar mereka dari generasi 90-an, dan suka nongkrong di depan tv di hari Minggu, mereka pasti tahu arti dari kata pokemon yang merupakan singkatan dari pocket monster.

Begitu pun dengan nama-nama pokemon. Bila mereka pernah nonton anime yang pernah disiarkan oleh salah satu tv swasta, mereka pasti ngeh bahwa nama-nama para monster diambil dari beberapa bahasa, salah satunya bahasa Inggris, yang diakronimkan seperti pocket monster jadi pokemon.

Dan bila dikaitkan ke bahasa kuno,dua pertanyaan saja: A) Apakah benar itu bahasa kuno? B) Apakah dalam bahasa kuno tersebut mengenal semua huruf vokal, semisal O dan E?

Yang kedua, ketakutan bahwa Pokemon Go mencuri data-data personal atau data-data negara lewat koneksi GPS dan kamera.

Kalau yang ini, mungkin masih masuk akal dibanding poin pertama. Meski bagiku, dirimu di masa lalu ini, hal itu agak ... aneh. Maksudku orang-orang tidak berkeberatan membagikan foto dan lokasi mereka di mana pun mereka berada di sosial media, bukan? Jadi apa yang istimewa dari Pokemon Go dibanding sosial media mengenai pencurian data thingy ini? Apa yang lebih membuat permainan daring ini lebih berbahaya dibandingkan sosial media?

Lagipula, aku yakin dirimu di masa depan familiar dengan kamera di berbagai sudut kan, Jun? Aku yakin di masa depan nyaris semua hal ditangkap oleh kamera.

Yang ketiga, isu (atau fakta?) pemblokiran aplikasi ini. Sama seperti yang pertama, isu ini membuat aku tertawa. Dan curiga. Jangan-jangan isu ini diembuskan oleh para developernya untuk menarik lebih banyak pengguna. Tahu sendiri kan, Jun, efek dari pelarangan? Semakin dilarang, justru malah bikin penasaran, hahah.

Dan seterusnya. Dan sebagainya. Padahal menurutku, atau kita, Pokemon Go ini punya nilai positif yang lumayan. Jauh lebih banyak dari nilai negatifnya, yakni bikin orang kecanduan.

Yang pertama, tempat yang jadi titik orang berburu Pokemon (aku belum tahu namanya, kita saat ini belum memainkan game tersebut, Luke bukan Android, ingat?) dan melatih mereka bisa dibilang tempat yang cukup ramai. Bisa dimanfaatkan untuk kita usaha. Semisal berjualan makanan dan minuman. Kemungkinan besar pasti laris.

Yang kedua, "memaksa" introvert atau gamer yang biasa menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan mungkin kurang olahraga untuk keluar rumah dan berolahraga. Bahkan mungkin untuk lebih mengenal lokasi-lokasi di sekitarnya!

Kalau kamu lupa Jun, ada teman kita, yang sudah main game fenomenal ini, mengaku baru tahu mengenai tempat-tempat tertentu di dekat rumah mereka gara-gara game ini. Dan itu tidak hanya satu orang! Wow, kan? Kapan lagi game ngajak jalan-jalan sambil mengenal lingkungan sekitar? Dan ini secara tak langsung berdampak positif pada pariwisata. Apalagi seperti yang kita berdua tahu (kalau dirimu masih ingat), kebanyakan titik berburu ini berada di lokasi-lokasi wisata.

Aku rasa itu sudah cukup mewakili kondisi saat ini. Aku rasa dengan membaca coretan dari masa lalu ini, sudah membuat pikiranmu kembali mengingat beberapa detail lain yang tak perlu aku ceritakan. Seperti semisal, bahwa dirimu tidaklah terlalu ingin mencoba permain daring ini, meski animenya dulu pernah jadi salah satu favoritmu di masa kecil, dan lebih memikirkan untuk mengumpulkan uang untuk membeli beberapa buku incaran seperti The Book Thief atau Six of Crows atau The Unexpected Everything.

Satu pertanyaan saja, Apakah di masa depan game ini masih dimainkan?
Jun dari masa lalu.
Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^