Sabtu, Juli 16, 2016

Sendiri?

Kepada Jun di masa depan ...

Entah kenapa yang aku tuliskan untuk dibaca olehmu di masa depan adalah hal-hal yang beraroma suram melulu. Rasa-rasanya yang tertuang di blog yang kucoba untuk aku bangkitkan lagi isinya kebanyakan hal-hal bermuatan negatif. Aku sendiri, yang menuliskannya untuk diriku sendiri di masa depan, untuk dibaca lagi sebagai bagian nostalgia atau pengingat agar sebisa mungkin tak mengulangi hal yang sama, merasa heran. Apa tidak ada hal baik yang terjadi di kehidupan? Yang jawabnya, tentu ada. Lalu kenapa hal-hal suram yang kebanyakan mengisi tiap sudut blog ini?


Aku sendiri tak yakin, Jun. Mungkin masa lalumu ini lebih mudah dalam menuliskan hal-hal bernuansa gelap dan penuh kekecewaan dan amarah. Atau mungkin karena mood menulisku hanya datang ketika aku sedih, kecewa, marah. Atau mungkin juga karena aroma-aroma gelap lebih mudah dituangkan.

Atau mungkin aku punya ketertarikan yang aneh pada hal-hal seperti itu? Maksudku, aku tak suka dengan kekerasan fisik atau apapun jenisnya. Hal suram dan gelap tak melulu bersinggungan dengan kekerasan. Yang aku singgung Jun, seperti yang sudah bisa kamu duga, after all you're me, adalah menyiksa pikiran sendiri.

Padahal aku sendiri selalu menghindari cerita-cerita bermuatan tragedi atau elegi. Oh ya, meski Wuthering Heights yang suram itu salah satu buku terbaik yang pernah kubatja, aku sebisa mungkin tak membaca buku atau film-film yang bercerita sedih. Atau kalau ceritanya sedih sekali, aku memilih yang kadar humornya cukup oke sehingga dapat mengimbangi kesedihan itu.

Tapi yang namanya ketertarikan ... Meski secara sadar aku berusaha menghindarinya, alam bawah sadarku menuntunku ke hal-hal tersebut. Seperti belakangan ini aku menyiksa (?) diriku dengan melihat kebahagiaan orang di Instagram.

Seperti yang kamu ingat Jun, belakangan ini kamu, dirimu di masa lalu, sedang tergila-gila dengan yang namanya Instagram. Memang Instagram tidak ada bedanya dengan sosial media lainnya, yang menggunakannya adalah orang asli di luaran sana yang membagikan sebagian kecil atau keseluruhan hidupnya. Tapi bila di sosial media lain kita bisa melakukan apa saja, Instagram hanya berfokus pada foto doang. Dan itulah yang membuatku suka. Karena dibandingkan kata dan kalimat, foto menampakkan ekspresi asli para penggunanya.

Dan coba tebak Jun foto apa yang suka aku lihat? Bukan, buku. Buku mah tidak ada nyiksa-nyiksanya ... Oke, mungkin dikit. Bikin jadi mupeng. Apalagi kalau buku itu buku wishlist kita, hahah. Tapi yang lain.

Ah, tentu saja dirimu bisa menebaknya. Foto couple.

Aku sebenarnya tidak begitu desperate ingin memiliki pacar, Jun. Aku juga tak ingin buru-buru menikah. Bahkan, bila aku ngebet punya pacar, aku bisa kembali menerima mantan (masih ingat Terra, Jun? Aku akan menceritakannya di kali lain) yang jelas-jelas ingin merajut benang cinta bersama. Tapi melihat kemesraan mereka, melihat keintiman mereka, tawa mereka bersama, tatapan mereka satu sama lain ... Kadang membuatku iri.

Dan mengingat itu adalah orang-orang biasa, bukan selebritas, chemistry dan ekspresi yang terpampang di foto di akun mereka, mudah untuk dibaca. Dan itu semua tampak real.

Aku tidak keberatan sendirian, sejak dulu aku seringnya memang sendiri, tapi kadang jadi lone wolf itu melelahkan. Dan tentu, tidak bisa dipungkiri aku menginginkan seseorang berada di sampingku. Dalam artian harfiah dan istilah.

Yang berharap dirimu sudah punya tambatan hati,
Jun dari masa lalu

P. S. Apakah awalan tulisan ini menyatu dengan baik dengan bagian selanjutnya?
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^