Minggu, Juli 24, 2016

The Boss (2016)

Kepada Jun di masa depan ...

Beberapa menit yang lalu, dirimu di masa lalu ini baru saja selesai menonton salah satu film terbaru Melissa McCarthy berjudul The Boss. Kalau bukan karena kagum dengan aksinya di SPY, film pertama di mana aku mengenal nama Melissa--padahal namanya ada di beberapa film yang aku pernah lihat seperti Charlie's Angel dan The Hungover part III, kalau film ini tidak ada Melissa-nya, mungkin aku bakal melewatkan kesempatan untuk melihat film ini. Dikarenakan rating imdb dan rottentomatoes yang cukup rendah.


Oh ya, tentu saja kamu mengetahuinya, kita adalah seseorang yang termasuk mempertimbangkan skor film sebelum kemudian memutuskan untuk melihatnya. Dengan pengecualian, serendah apapun ratingnya, bila yang main adalah aktor dan aktris favorit, serta merupakan sekuel dari film sebelumnya yang bikin kagum, juga merupakan adaptasi dari buku, aku akan tetap menontonnya.

Seperti The Boss ini.

Semenjak menit-menit awal, aku mengharapkan film ini akan memberikan hiburan se-oke SPY, aku bakal terpingkal seperti ketika menonton SPY. Tapi yang aku dapat ... aku hanya tertawa di dua adegan saja (atau cuman satu? Atau lebih dari dua? Entah kenapa mendadak aku tidak yakin, tapi yang jelas aku sempat tertawa di beberapa adegan.) Tapi aku tidak ingat di adegan yang mana. Unsur komedi The Boss ini menurutku agak dipaksakan, tidak semulus SPY.

Aku bandingin mulu ya dengan SPY? xD Mau bagaimana lagi. Di masaku yang sekarang, Jun, film tersebut merupakan film komedi dewasa favorit kita xD

Aku yakin dirimu sudah lupa, Jun, sebenarnya The Boss ini bercerita soal apa sih. Melissa McCarthy berperan sebagai Michelle Darnell, seorang pengusaha sukses yang saking suksesnya dia menjadi orang terkaya nomor 47 di Amerika.

Adegan pertama diawali dengan Darnell kecil yang dikembalikan ke panti asuhan. Kemudian timeline-nya dimajukan lima tahun, adegan sama dengan mobil berbeda: Darnell yang lebih dewasa lima tahun lagi-lagi dikembalikan ke panti asuhannya. Sekali lagi timeline dimajukan lima tahun, lagi-lagi adegan yang sama dengan mobil yang lagi-lagi berbeda dengan Darnell yang telah beranjak remaja, untuk kesekian kalinya dikembalikan oleh orangtua asuhnya ke panti asuhan.

Prolog tersebut sebetulnya cukup bagus. Sangat bikin penasaran. Apa yang salah dengan diri Darnell hingga dia dikembalikan terus-menerus ke panti asuhannya? Namun sayangnya, pertanyaan itu tak pernah terjawab hingga akhir film. Meski begitu, prolog tersebut penting karena bermuara ke sikap Darnell di masa depan. Dia menjadi sosok yang menganggap bahwa keluarga adalah sebuah konsep yang overrated.

Terdengar lebih seperti film sedih dibanding dengan film komedi kan, Jun?

Film sedih dengan bumbu komedi bisa dikatakan bukanlah hal yang jarang. Malahan sebentar lagi ada film seperti itu yang akan dirilis dan merupakan adaptasi dari buku James Patterson. Tapi The Boss ini seperti setengah-setengah. Setengah sedih, setengah komedi. Yang membuatnya tidak terlalu sedih untuk membuat penonton bersimpati, juga tidak terlalu lucu untuk membuat penonton tertawa. Atau setidaknya, itulah yang terjadi padaku. Padahal aku berharap sekali film ini membuatku tertawa terpingkal-pingkal paska maraton Game of Thrones season 2 hingga 4.

Selain Melissa, film ini juga didukung oleh Kristen Bell dan Peter Dinklage. Akting mereka berdua cukup bagus. Kristen memerankan peran yang merupakan antitesis dari tokoh Melissa (dia bukan antagonis-nya yak, Jun, tapi merupakan sidekick character). Sementara Peter adalah saingan bisnis Darnell, yang bermotivasikan dendam ingin menghancurkan Darnell.

Secara keseluruhan, film The Boss ini ... nyaris lumayan. Karakter tokoh-tokohnya kuat. Tapi saking kuatnya membuat perubahannya ke yang lebih baik agak terasa kurang mulus. Prolognya bagus. Epilognya terasa sekali dipaksakan agar jadi bagus. Kisah sedihnya nanggung karena kurang dieksplor (mungkin karena keterbatasan durasi?). Humornya banyak yang garing. Tapi pesan moralnya soal keluarga sangat oke. Dan bagi romance hater atau cheesy romance hater, film ini nyaris bersih dari romance.

Seandainya kamu punya waktu luang yang lebih, atau sedang tak ingin dipusingkan dengan plot rumit, kamu boleh kok, Jun, melihat ulang film The Boss ini di masa depan.

Jun dari masa lalu.

P. S. Tampaknya review The Boss ini merupakan post pertama berlabel Movies Review.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^